SYUKURI SEMUA NIKMAT ALLAH SWT YANG TAK TERHITUNG
Kita sering mendengar istilah kata ‘qorun’ yang identik dengan orang pelit dalam kehidupan. Tahukah kamu kalau kisah Qorun ini merupakan kisah nyata pada zaman Nabi Musa as. Kisahnya tertuang langsung di dalam Al-Qur’an, Surah Al-Qashash ayat 77-83, sebagai pembelajaran bagi kita umat manusia untuk tidak bersikap seperti Qorun yang mengingkari nikmat Allah. Qarun adalah seorang yang miskin tetapi berkat doa Nabi Musa as., dia diberkahi kekayaan namun setelah diberikan nikmat harta oleh Allah SWT., dia mengingkarinya dan ketika dimintai zakat, dia menolak dengan keangkuhannya menganggap harta yang dia miliki merupakan hasil jerih payah usahanya sendiri. Allah SWT. pun akhirnya memberikan hukuman dengan menenggelamkan Qarun beserta harta yang dimilikinya.
Tanpa disadari Allah SWT. telah memberikan beribu nikmat, ketika kita mencoba untuk menghitungnya, niscaya tidak akan mampu menilai nikmat tersebut dengan hitungan matematika manusia. Sebagai contoh, kita diberi udara untuk bernapas gratis oleh Allah SWT. tapi ketika kita diberikan sakit atau hal-hal yang membuat kita perlu oksigen di rumah sakit misalnya, berapa harga yang harus dibayar untuk setiap tabungnya? Kemudian kita kalikan dengan kebutuhan oksigen setiap hari, tentu angka yang fantastis akan keluar. Itu hanya dari salah satu contoh nikmat yang Allah berikan, belum lagi hal-hal lain seperti berlimpahnya air, sumber daya alam, kemampuan panca indera yang ketika salah satu tubuh merasa sakit berapa harga yang harus dibayar? Allah SWT. berfirman dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
“Dan jika engkau menghitung nikmat Allâh kamu tidak akan mampu menghitungnya.” [1]
Ayat ini sangat jelas memperingatkan manusia bahwa matematika kita tidak akan mampu untuk menghitung apa yang telah Allah SWT. berikan. Oleh karenanya, mari kita semua mensyukuri apapun yang telah Allah berikan baik karunia yang kecil maupun yang besar. Hadhrat Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut:
Dari An-Nu’man bin Basyir, Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” [2]
Dengan bersyukur maka kita dihindarkan dari sikap kesombongan dan egoisme diri, nikmat Allah SWT. tidak saja berupa harta semata namun kesehatan, waktu luang dan hal lainnya sering tidak kita sadari sebagai nikmat.
Penulis mempunyai kisah tentang bagaimana seorang ibu yang sangat menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga padahal beliau bisa saja memilih untuk berkarir dengan kapasitas besar yang beliau miliki sebutlah namanya, Ibu Maryam. Beliau adalah lulusan S2 dari salah satu universitas negeri di Indonesia. Ketika gadis, Ibu Maryam mempunyai pengalaman bekerja di beberapa tempat namun setelah menikah, beliau memilih untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya dengan alasan untuk bisa mengkhidmati suami, anak-anak dan punya waktu luang untuk berkhidmat di agama. Beliau memang aktif di organisasi kewanitaan sehingga kesehariannya disibukkan dengan aktivitas sosial dan rumah tangga. Namun, ada beberapa tetangga yang mulai mencibir Ibu Maryam, mengingat bahwa beliau berpendidikan tinggi tapi kok “nganggur”.
Ada yang berkata, “Kok gak sayang yah sama ijazahnya? Kenapa tidak sambil kerja saja?”
Dan pertanyaan lain yang sering terdengar. Namun, Ibu Maryam tetap pada pendiriannya bahwa pendidikan yang tinggi bukan semata-mata untuk mendapatkan karir yang bagus tapi diperlakukan sebagai bekal menjadi seorang ibu yang baik sehingga anak-anaknya kelak tumbuh menjadi pribadi yang kritis namun tetap berempati terhadap lingkungan sekitarnya. Ibu Maryam tidak pernah menyesali keputusannya untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya karena nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. tidak berupa harta saja atau karir yang bagus namun memiliki suami yang baik, anak-anak yang saleh, punya waktu yang cukup untuk keluarga, bisa membagi waktu untuk mengkhidmati agama dengan baik, itu juga merupakan nikmat yang patut disyukuri. Ibu Maryam berpendapat bahwa jika seandainya dia memilih menjadi ibu bekerja, meskipun pundi-pundi rupiah menggiurkan namun belum tentu punya banyak waktu luang seperti yang dimiliki saat ini. Namun meskipun demikian, Ibu Maryam tetap menghargai ibu-ibu lainnya yang berjuang sebagai ibu pekerja karena setiap orang punya kisah dan pilihan masing-masing, semua tergantung dengan porsinya. Ibu Maryam pun tetap bangga terhadap siapapun dengan profesi apapun karena sejatinya setiap insan akan dimintai pertanggungjawaban di kehidupan kelak.
Hadhrat Rasulullah saw. bersabda:
Ketahuilah! Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpinnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya, serta akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang budak (atau pekerja) adalah pemimpin atas harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” [3]
Semoga dengan beberapa kisah yang telah dituliskan, menjadi pengingat kita bahwa Allah SWT. adalah Maha Pemberi Rizki, Maha Kuasa atas segala yang sesuatu yang ada di dunia ini. Semoga kita senantiasa bisa hidup dan kelak mati dalam keadaan mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Aamiin.
Referensi:
[1] QS. An-Nahl 16: 19
[2] HR. Ahmad
[3] HR. Bukhari dan Muslim
Views: 8
