Zikir Khair Mln. Munirul Islam Yusuf, Shd
Mewakafkan Diri Sepenuhnya untuk Allah Taala
Mln. Rahmat Ali, muballigh pertama yang diutus oleh Hz. Khalifatul Masih II ra. ke Indonesia, memiliki kedekatan dengan orang tua Mln. Munirul Islam Yusuf, Shd. Dalam salah satu kesempatan, beliau menyampaikan kepada orang tua beliau agar kelak ada anak laki-laki yang menempuh pendidikan Jamiah di Rabwah.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Mln. Munirul Islam Yusuf sempat menempuh pendidikan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Namun, ketika ayahandanya mengingatkan kembali nasihat tersebut, beliau kemudian diminta untuk melanjutkan pendidikan agama di Jamiah Rabwah.
Kecintaan kepada Jemaat membuat beliau menerima panggilan tersebut. Jarak yang jauh dari tanah air tidak menjadi penghalang. Beliau kemudian berangkat ke Rabwah dan menempuh pendidikan di sana pada periode 1968–1978.
Di Rabwah, beliau mempelajari Ilmu Perbandingan Agama, Ilmu Tafsir, Bahasa Arab, Urdu, Inggris, dan Farsi. Pendidikan tersebut kemudian menjadi bekal yang sangat penting dalam perjalanan pengkhidmatan beliau. Setelah menyelesaikan pendidikannya dan memperoleh gelar Syahid, beliau kembali ke Indonesia dan menjalani kehidupan sebagai muballigh Jemaat.
Beliau bukan sekadar muballigh yang berpindah tugas dari satu tempat ke tempat lain, tetapi
seorang waqif zindegi sejati, yang mewakafkan diri sepenuhnya untuk Allah Taala.
Dalam perjalanan pengkhidmatannya, Mln. Munirul Islam Yusuf pernah bertugas sebagai muballigh pembina di banyak wilayah di Indonesia, meliputi Jawa Timur (mencakup Jateng, Bali, NTB, NTT), Sulawesi Selatan (mencakup Maluku), Priangan Timur, wilayah Sumatera bagian Selatan yang pada masa itu juga mencakup Bengkulu, kemudian bertugas di Lampung;dan Cirebon.
Di sejumlah tempat, beliau bahkan harus membuka dan merintis jalan pertablighan. Ketika sebuah wilayah belum memiliki perkembangan Jemaat yang kuat, seorang muballigh harus membangun dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Proses tersebut tidak selalu memberikan hasil dalam waktu singkat.
Ketika bertugas sebagai muballigh, beliau banyak melakukan kunjungan dari rumah ke rumah dan membangun pendekatan secara personal. Bagi beliau, pembinaan tidak hanya dilakukan dalam pertemuan resmi, tetapi juga melalui hubungan langsung dengan anggota, mengetahui keadaan mereka, dan memberikan perhatian sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
*Teladan Bagi Keluarga*
Pengetahuan beliau sangat luas. Dalam keluarga, pengetahuan tersebut tidak hanya terlihat ketika beliau menjalankan tugas sebagai muballigh atau mengajar, tetapi juga dalam percakapan sehari-hari.
Anak-anak dan cucu beliau sering berdiskusi dengannya di meja makan, baik mengenai tugas dari sekolah maupun berbagai persoalan lainnya. Dalam diskusi-diskusi tersebut, suatu persoalan sering beliau kaitkan dengan ayat Al-Qur’an, nubuatan, dalil, maupun penjelasan lainnya yang relevan. Dengan demikian, anak dan cucu tidak hanya mendapatkan jawaban atas suatu pertanyaan, tetapi juga diajak melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.
Dalam berdiskusi, beliau dikenal rendah hati dan sabar. Beliau juga berbicara dengan lembut dan tidak menyukai perdebatan. Ketika menghadapi perbedaan pendapat, beliau lebih memilih menjelaskan berdasarkan sudut pandang keilmuan agama. Oleh karena itu, kami memandang beliau tidak hanya sebagai ayah, tapi juga seorang guru.
Dalam kehidupan sehari-hari, kedisiplinan beliau dalam menjalankan ibadah juga sangat dirasakan oleh keluarga. Beliau tidak pernah melewatkan salat berjamaah. Bahkan dalam beberapa kesempatan, ketika belum ada anggota keluarga yang dapat menjadi makmum, beliau memilih menunggu. Beliau duduk di atas sajadah hingga salah satu putri beliau pulang dari sekolah agar salat dapat dilakukan bersama-sama.
Nasihat tentang doa juga menjadi bagian yang sering beliau sampaikan kepada anak-anaknya.
Putri beliau menuturkan, saat masih kecil ia menginginkan sepeda. Namun almarhum menyampaikan untuk jangan minta ke beliau melainkan mintalah segala keinginan dunia pada yang punya dunia, begitu juga jika punya keinginan tentang akhirat mintalah kepada pemilik akhirat. Sarana yang kita miliki adalah salat 5 waktu, maka perpanjang lah sujud terakhir untuk memanjatkan doa-doa dan keinginan-keinginan.
Nasihat tersebut begitu tertanam dalam diri putrinya. Pada akhirnya, keinginan untuk memiliki sepeda terwujud bukan melalui pemberian langsung dari ayahnya, tetapi melalui hadiah dari sebuah program produk rumah tangga. Bagi putrinya, pengalaman tersebut menjadi salah satu pelajaran yang membekas mengenai keberadaan Allah Taala sebagai Zat Yang Maha Mendengar doa.
Almarhum selalu mengulang nasihat untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala, dan
mengupayakan salat berjamaah di masjid. Segalanya harus berujung pada satu wujud yaitu
Allah Taala.
Dalam mendidik keluarga untuk mencintai Al-Qur’an, beliau juga membiasakan khatam AlQur’an, terutama pada bulan Ramadan. Ketika ada putrinya terlihat lelah, beliau memintanya
duduk di sampingnya untuk mendengarkan dan menyimak. Beliau menyampaikan bahwa insya Allah pahala yang diperoleh tetap ada dengan mendengarkan dan menyimak bacaan AlQur’an.
*Pengkhidmatan melalui Bahasa*
Dalam berbagai acara Jemaat yang menggunakan bahasa Urdu, beliau kerap menjalankan tugas sebagai interpreter (penerjemah lisan). Cara beliau menyampaikan terjemahan terasa sangat berbeda. Beliau tidak terdengar seperti seseorang yang sedang membaca teks terjemahan. Penuturannya mengalir, alami, dan mudah diikuti.
Pengkhidmatan sebagai penerjemah telah membawa beliau menjalankan tugas di luar Indonesia. Pada tahun 1988 dan 1994, beliau mendapat tugas dari Hazrat Khalifatul Masih IVr.h. untuk menjadi penerjemah di London.
Seorang penulis dan volunteer penerjemah menyampaikan pengalaman baik tentang almarhum yang juga sangat mengesankan, yaitu dalam hal pilihan kata yang beliau gunakan ketika menjadi penerjemah. Beliau mampu menyampaikan makna dari bahasa sumber dengan ungkapan yang sederhana dan mudah ditangkap oleh pendengar.
Itulah salah satu kelebihan beliau sebagai seorang interpreter yang benar-benar menguasai pekerjaannya sehingga pendengar tidak disibukkan dengan proses memahami bahasa yang kaku, tetapi dapat langsung memahami pesan yang disampaikan.
Kemampuan tersebut saya rasakan sendiri ketika pernah menerjemahkan pemaparan beliau ke dalam bahasa Inggris dalam sebuah tayangan mengenai nubuatan “Api dari Jawa”, yang dikaitkan dengan peristiwa meletusnya Gunung Krakatau. Penuturan beliau dalam bahasa Indonesia begitu mengalir. Namun ketika harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, saya justru membutuhkan waktu untuk mencari pilihan kata yang tepat agar maknanya tetap sama, tetapi terdengar ringan dan alami.
Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa pekerjaan penerjemahan bukan hal mudah, kemampuan beliau bukan sekadar memahami bahasa asing, tetapi juga harus memahami bagaimana sebuah gagasan harus disampaikan agar mudah diterima oleh pendengarnya.
Ada pula pengalaman beliau di Qadian yang pernah diceritakan. Pada saat di Qadian, beliau
menjalankan tugas penerjemahan sejak pagi hingga sore. Saat itu tidak ada orang lain yang bersedia atau mampu mengambil tugas tersebut, sehingga beliau menjalankannya seorang diri, termasuk menerjemahkan dalam beberapa bahasa. Di tengah-tengah menerjemahkan, rasa lelah dan haus akhirnya membuat beliau terceletuk dalam bahasa Sunda (bahasa daerah) kalau beliau haus. Ungkapan spontan tersebut menjadi salah satu cerita kecil yang menggambarkan sisi lain dari pengkhidmatan sebagai penerjemah.
Beliau menyampaikannya sebagai cerita ringan. Namun pengalaman tersebut menggambarkan bahwa tugas seorang interpreter menuntut kesiapan dan konsentrasi yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Kemampuan bahasa dan keilmuan beliau juga tercermin dalam sejumlah karya tertulis. Mln. Munirul Islam Yusuf, Shd. tercatat sebagai penulis dan penerjemah beberapa buku. Ada satu buku yang ditulis yang membahas sejumlah persoalan yang berkaitan dengan pemahaman keislaman dan berbagai keberatan terhadap ajaran Ahmadiyah.
Beliau juga tercatat sebagai salah seorang penerjemah Awal Perselisihan Dalam Islam, bersama Mln. Yaqin Munir. Nama beliau tercatat dalam sejumlah pekerjaan pemeriksaan dan penyuntingan naskah. Pada 2025, misalnya, beliau masih tercatat sebagai salah satu editor Hadiah bagi An-Nadwah (Tuhfatun Nadwah).
*Berkhidmat sampai Akhir Hayat*
Pada masa berikutnya, pengkhidmatan beliau berlanjut di Markaz. Beliau dipercaya mengemban berbagai tanggung jawab, di antaranya sebagai Principal dan dosen Jamiah Ahmadiyah Indonesia, serta sebagai anggota Dewan Naskah dan Dewan Qadha.
Jika sebelumnya beliau menjalankan tabligh secara langsung di tengah masyarakat, di Jamiah beliau turut mengambil bagian dalam menyiapkan generasi yang akan menjalankan tugas pertablighan pada masa berikutnya.
Dengan demikian, berbagai amanah yang beliau jalankan di Markaz memperlihatkan keluasan bidang pengkhidmatannya.
Pelita boleh hilang, tapi cahayanya harus selau terang. Ruh waqif zindegi pada diri Mln. Munirul Islam tidak hanya terlihat dari status seorang muballigh, tetapi juga dari cara beliau menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk menjalankan amanah yang dipercayakan kepada beliau, hingga akhir hayatnya.
Views: 10
