KEBENARAN ADALAH SELEMBAR CERMIN DI TANGAN TUHAN
Pernahkah anda menatap kepingan cermin yang berserakan?
Jalaluddin Rumi, seorang penyair sufi Agung menggunakan kalimat metafora yang tajam ini untuk menggambarkan kebenaran. Bagi Jalaluddin Rumi, kebenaran bukanlah satu kesatuan utuh yang kaku, melainkan cermin pecah yang kepingannya tersebar di tangan setiap manusia. Hal ini memberi pelajaran mendalam tentang kerendahan hati dan perspektif manusia.
Namun manusia cenderung menganggap kebenaran menurut versi masing-masing yang dibentuk oleh pengalaman, lingkungan dan pengetahuan terbatas mereka. Fakta objektif sering diabaikan jika tidak sejalan dengan perasaan atau keyakinan pribadi. Secara psikologis keyakinan diri yang berlebihan ini merupakan bentuk pelarian untuk mendapatkan rasa aman, meskipun pada akhirnya dapat memicu konflik dan perpecahan ketika kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi.
Tentunya kita sebagai seorang Muslim sudah seharusnya selalu berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. dalam memahami segala hal termasuk mengenai kebenaran. Memang benar bahwa kebenaran itu sejatinya mutlak milik Sang Maha Benar, seperti tertuang dalam Al-Qur’an Allah SWT. berfirman:
“Kebenaran itu mutlak dari Tuhan-mu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang rugi.” [1]
Namun demikian kita tidak perlu khawatir karena sesungguhnya Dia juga telah mengakui bahwa setiap hamba-Nya mempunyai cara pandang masing-masing dalam menangkap citra kebenaran dari-Nya. Hal itu justru menjadi Rahmat yang sudah selayaknya kita syukuri dengan berlomba-lomba dalam kebaikan. Selanjutnya tentu dapat menjadi sebuah renungan bagi kita semua dalam menyikapi dan merenungi arti sebuah kebenaran yang hakiki.
Hal ini sejalan dengan pandangan Jalaludin Rumi, seorang Sufi Agung yang menyampaikan kutipan kebenaran dalam sebuah kalimat metafora:
“Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan, jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.”
Makna dari kutipan tersebut adalah kebenaran hakiki (mutlak) sejatinya hanya milik Tuhan, sedangkan manusia hanya mampu menangkap sebagian kecil kebenaran tersebut (relatif). Pecahan kaca (cermin) melambangkan sudut pandang terbatas manusia yang seringkali seseorang merasa paling benar (memiliki kebenaran utuh) padahal hanya memegang sebagian kebenaran. Berpikir secara utuh adalah kesalahan manusia menganggap kepingan kecil (sudut pandang) yang mereka pegang sebagai satu-satunya kebenaran. [2]
Kutipan ini mengajarkan agar manusia tidak sombong dengan pemahamannya dan harus menghargai perbedaan pandangan, karena kebenaran sejati adalah kumpulan dari berbagai kepingan. Kutipan ini juga seringkali digunakan untuk menekankan pentingnya kerendahan hati dalam berpendapat dan menghormati perspektif orang lain, karena tidak ada manusia yang memegang cermin kebenaran secara utuh dan kebenaran yang sejati mutlak hanyalah milik Allah SWT.
Jadi kesimpulannya menyikapi kebenaran menurut perspektif ajaran Islam adalah proses mencari (tabayyun), meyakini, membela dan mempraktikkan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.
Referensi:
[1] QS. Al-Baqarah 2: 148
[3] https//islami.co
Views: 43
