HASAD: RACUN HATI YANG MENGHAPUS PAHALA DAN MERUSAK PERSAUDARAAN
Dalam pandangan Islam, hati bukan sekadar organ fisik, melainkan pusat kendali yang menentukan baik buruknya seluruh amal perbuatan manusia. Rasulullah saw. bersabda:
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga kebersihan hati dari segala penyakit batin.
Namun, menjaga hati agar tetap bersih bukanlah perkara mudah. Ada banyak penyakit batin yang mengintai, dan di antaranya yang paling berbahaya adalah hasad atau kedengkian, juga iri dan riya. Penyakit-penyakit ini tidak hanya merusak hubungan kita dengan sesama manusia, tetapi juga memiliki kekuatan untuk menghapus nilai pahala amal di sisi Allah Ta’ala. Bahkan Allah Ta’ala sendiri telah mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah parah penyakit mereka dan bagi mereka ada azab yang pedih disebabkan mereka senantiasa berdusta.”
(QS. Al- Baqarah : 11)
Kedengkian pada hakikatnya adalah ketidakmampuan kita menerima karunia yang Allah Ta’ala berikan kepada orang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita tentu kerap mengalami perlakuan buruk dari orang lain—mungkin kita dibohongi, dihina, difitnah, atau dicaci maki.
Pengalaman pahit semacam ini, jika tidak dikelola dengan baik, bisa menimbulkan rasa sedih, kecewa, bahkan marah yang berujung pada timbulnya kedengkian di dalam hati.
Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi semua itu? Cara yang paling mulia dan paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah dengan bersabar. Kesabaran bukan berarti pasrah tanpa daya, melainkan sebuah keteguhan hati untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan, serta tetap percaya bahwa Allah Ta’ala akan memberikan dukungan dan pertolongan kepada hamba-Nya yang sabar.
Kita perlu selalu mengingat bahwa manusia adalah makhluk individual sekaligus sosial. Individual berarti tidak ada satu pun manusia yang sama persis dengan yang lain, dan sosial berarti kita tidak mungkin hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Karena kita saling membutuhkan, maka hubungan timbal balik yang harmonis adalah fondasi utama terciptanya rasa persaudaraan. Karena itulah Rasulullah saw. bersabda:
“Janganlah kalian saling dengki, saling membenci dan saling membelakangi. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
(H.R. Bukhari dan Muslim)
Saling membenci hanya akan merusak perdamaian dan memecah belah ikatan persaudaraan yang telah Allah Ta’ala bangun.
Rasa dengki, jika dibiarkan tumbuh subur, adalah penyakit ruhani yang dampaknya sangat merugikan. Orang yang hasad biasanya merasa susah ketika melihat orang lain senang, dan sebaliknya, ia justru merasa senang ketika orang lain tertimpa kesusahan. Kerugian dari kedengkian ini tidak main-main, karena ia bisa mendatangkan kesengsaraan hidup dan, yang lebih mengkhawatirkan lagi, seperti api yang melahap kayu bakar. Maka, sudah menjadi kewajiban kita untuk berusaha keras membersihkan hati dari sifat tercela ini.
Usaha untuk terhindar dari kedengkian harus dimulai dari dalam diri sendiri. Langkah paling fundamental adalah dengan mengembangkan sikap husnudzon, yaitu berbaik sangka kepada Allah Ta’ala dan kepada sesama manusia. Kita harus meyakini bahwa apa pun yang Allah Ta’ala berikan kepada orang lain adalah bagian dari keadilan dan kebijaksanaan-Nya yang sempurna, sehingga tidak perlu kita pertanyakan atau kita iri.
Di atas semua itu, pengobatan paling hakiki terhadap penyakit dengki adalah dengan terus memperkuat iman, karena segenap karunia dan keberkahan sejatinya hadir bersama
keimanan yang kokoh.
Di zaman sekarang, ketika rasa dengki dan permusuhan seolah menjadi pemandangan yang lumrah, kita harus lebih waspada. Jangan sampai kita terlempar jauh dari Allah Ta’ala hanya karena membiarkan kebencian bersarang di dada. Ibadah yang kita lakukan tidak boleh sekadar menjadi tradisi turun-temurun tanpa makna, karena yang Allah Ta’ala kehendaki dari kita adalah keikhlasan yang tulus. Begitu pula dalam membangun persaudaraan, kita tidak cukup hanya dengan kata-kata manis, tetapi harus diwujudkan dengan sikap solider dan kasih sayang yang nyata. Jika dalam suatu komunitas tidak ada lagi rasa persaudaraan dan solidaritas, maka kerusakan besar pasti akan terjadi.
Mari kita renungkan bahwa hidup di dunia ini tidak berlangsung selamanya. Setiap hari yang berlalu adalah kesempatan untuk memperbaiki hati, mengganti kedengkian dengan keikhlasan, dan mengganti kebencian dengan kasih sayang. Hindarilah segala sesuatu yang terbukti mendatangkan mudarat, karena itulah jalan yang paling selamat untuk kehidupan kita di dunia dan di akhirat. Semoga Allah selalu membersihkan hati kita dari hasad dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bersaudara dengan sebenar-benarnya persaudaraan.
Referensi:
(Malfuzhat, Add. Nazir Isyaat ,London, 1984, jld 7 h.353/ MI 06.11.99).
Views: 23
