Ketika Dunia Terasa Kejam: Tenang, Ada Allah Sang Maha Penolong

Pernah nggak sih, hati ini rasanya sesak? Merasa dipandang sebelah mata, diabaikan, bahkan seolah kita ini angin lalu? Dunia yang dulu terasa hangat, sekarang malah terasa asing dan menusuk. Dulu dihormati, sekarang malah dipandang hina. Dulu disambut,

sekarang malah dihindari.

 

Ini bukan soal kita yang berubah menjadi buruk. Seringkali, karena keadaan yang tak terduga, bukan kita. Harga diri yang kita bina bertahun-tahun, bisa luntur begitu saja dalam sekejap.

 

Coba bayangkan Fulan, seorang kepala keluarga. Usahanya bangkrut. Satu per satu, rezeki

yang dulu mengalir deras, kini merembes habis. Modal ludes, teman usaha kabur, dan

pendapatan nol besar. Dulu, nama Fulan harum dan disegani. Sekarang? Ia seperti bayangan—ada tapi tak dianggap. Teman-teman yang dulu dekat, satu persatu mundur perlahan. Suaranya tak lagi didengar.

 

Sakitnya bukan main. Rasa malu dan kehilangan martabat itu nyata menusuk kalbu. Mungkin sampai terbesit ingin menghilang dari peredaran.

 

Tapi, di tengah titik nadir itulah, Fulan mulai sadar: ini mungkin takdir Tuhan yang harus dijalankan. Bukan untuk ditangisi, melainkan untuk diterima dengan lapang dada. Ia

memutuskan untuk bangkit—bukan demi pujian manusia, tapi karena ia yakin Allah Ta’ala tak pernah benar-benar meninggalkannya.

 

Teringat pesan luar biasa dari seorang hamba Allah Ta’ala, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Beliau pernah bersabda: “Ketika kehormatan duniawi satu demi satu hilang, Allah justru akan memberikan kehormatan abadi dari langit. Maka, jangan sekali-kali kau tinggalkan Dia.”

 

Ya, ini proses alami. Ujian. Bukan hukuman. Allah Ta’ala sedang menjemput kita untuk naik

kelas, membersihkan hati kita dari belenggu gengsi.

 

Lihatlah teladan beliau sendiri. Beliau difitnah, diusir, bahkan dianggap kafir oleh kaumnya sendiri. Fatwa pembunuhan pun bergema. Dunia, dalam hal ini para ulama tradisional,

membuang beliau. Eh, tapi lihat hasilnya? Allah Ta’ala balik memuliakan beliau. Ribuan

orang berbondong-bondong memenuhi bai’atnya, dan dakwahnya terus berkembang sampai

detik ini. Itulah “kehormatan langit” yang nyata.

 

Apa resep beliau? Bukan balas dendam, bukan juga meratap. Beliau justru kian erat bermunajat, sabar menghadapi ujian, salat dan zikir tak pernah putus. Beliau sama sekali

tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

 

Allah Ta’ala sudah berjanji dalam Al-Baqarah (2:154):

“Wahai orang-orang beriman,

mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar.”

 

Jadi, kehilangan muka di depan manusia itu bukanlah akhir segalanya. Para nabi dan orang

saleh itu juga manusia biasa. Mereka juga menangis, juga lelah. Tapi yang membedakan adalah, mereka tak pernah melepas genggaman tangan mereka dari Allah Ta’ala, meski

dunia sedang memukul mereka dengan keras.

 

Kalau sekarang kita sedang terjatuh, nama baik tercoreng, atau harta habis, relakanlah yang sementara itu. Bukankah di langit sana, ada kehormatan yang jauh lebih kekal? Kuncinya simpel: tetaplah bersama-Nya, jangan berpaling.

 

 

Referensi:

(1) Buku Ajaranku, hlm. 13

(2) “Mencari Pertolongan Allah dengan Sabar dan Salat” –

Mencari Pertolongan Allah dengan Sabar dan Shalat

 

Views: 17

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *