Menjaga Hati dan Amal Perbuatan dari Sifat Takabur

Pernahkah Anda melihat atau bertemu dengan seseorang yang dirinya selalu merasa lebih baik daripada orang lain hingga orang tersebut hanya memuji-muji dirinya sendiri lalu merendahkan orang lain? Atau mungkin Anda sendiri merasakan hal tersebut ada di dalam diri Anda? Maka berhati-hatilah! Karena hal tersebut merupakan ciri-ciri dari sifat takabur. Apa itu takabur? Takabur atau yang lebih umum dikenal dengan istilah sombong adalah salah satu sifat dan perbuatan buruk yang harus kita jauhi karena kejahatan paling besar di antara akhlak buruk adalah keakuan dan takabur. [1]

 

Seseorang yang memiliki sifat takabur atau sombong tidak akan memperoleh keberhasilan dan kebahagiaan karena orang yang takabur atau sombong tidak bisa menghargai orang lain dan tidak bisa merasakan bagaimana keharuan pada saat menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Allah SWT., tidak menyukai orang-orang yang bersifat takabur atau sombong bahkan Allah SWT., berfirman bahwa:

 

“Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan dengan takabur (sombong) adalah penghuni api neraka dan mereka akan tinggal lama di dalamnya.” [2]

 

Allah SWT., pun menggambarkan bagaimana akhir dari orang-orang yang bersifat takabur atau sombong pada sosok Karun. Dikisahkan bahwa Karun adalah salah seorang dari kaum Nabi Musa as. yang kaya raya bahkan dia telah mendapatkan penghormatan dari Fir’aun, Allah SWT., memerintahkan kepada orang-orang yang telah dianugerahi harta benda agar mereka senantiasa berbuat baik kepada orang lain sebagaimana Allah SWT. telah berbuat baik kepada mereka, namun Karun merasa bahwa harta benda yang dia miliki adalah hasil dari ilmu dan usahanya sendiri hingga dia berlaku aniaya, padahal siapa yang beriman dan beramal saleh akan mendapatkan ganjaran yang lebih baik dari Allah SWT.

 

Sebagian orang berkata jika Qarun adalah orang yang beruntung karena memiliki harta benda yang berlimpah, namun orang-orang yang berilmu akan berkata: “Allah melapangkan rezeki pada siapa yang Dia kehendaki dan Allah menyempitkan rezeki pada siapa yang Dia kehendaki, jika Allah tidak memberikan karunia-Nya kepada kita, maka orang-orang yang ingkar tidak akan meraih kesuksesan.” Karena Karun telah berlaku aniaya dan berlaku sombong, maka azab Tuhan telah menimpa dirinya dan membinasakan dirinya. [3]

 

Dari kisah tersebut, sungguh tidak ada sedikitpun kebaikan dari sifat takabur atau sombong, bahkan sifat takabur atau sombong dapat menggerus amal-amal baik yang telah kita lakukan karena takabur dan kejahatan adalah hal yang buruk. Dari satu perkataan kecil saja pun amal selama tujuh puluh tahun jadi sia-sia. [4]

 

Kemudian, bagaimana cara menjaga hati dan amal perbuatan kita dari sifat takabur? Yakni dengan bersikap tawadhu (rendah hati). [5] Selain itu, janganlah memalingkan wajah dan berjalan dengan sombong terhadap manusia lainnya karena apa pun yang kita raih di dunia ini hanya dapat terwujud atas seizin Allah SWT., dan karena karunia-Nya semata. Sehingga, kita harus menjaga hati dan amal perbuatan kita dari sifat takabur agar amal-amal baik kita tidak menjadi sia-sia.

 

Referensi:

[1] Mirza Mubarak, Mendidik Diri Sendiri Mendidik Anak-anak, Cetakan kedua, Jemaah Ahmadiyah Indonesia, 1987, hal. 31

[2] QS. Al-A’raf 7: 36

[3] QS. Al-Qasas 28: 77-83

[4] Malfuzat

[5] QS. Al-Furqan 25: 63

 

 

Views: 20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *