Belajar Memahami sebelum Menghakimi
Manusia adalah makhluk perasa. Hanya karena tidak disapa saat berpapasan saja dapat membuat kita berpikir yang semestinya. Apakah ia marah? Atau apakah kita telah melakukan kesalahan? Atau mungkin ia sengaja menjauh? Banyak hal berkecamuk dalam dada.
Karena sifat perasa inilah yang membuat kita sering kali lebih cepat menilai daripada memahami. Kita melihat seseorang hanya dari apa yang tampak, tanpa mengetahui beban yang sedang dipikulnya. Padahal, setiap manusia memiliki ujian yang berbeda-beda. Ada yang berjuang menghadapi kesulitan ekonomi, kehilangan orang yang dicintai, masalah keluarga, sakit yang disembunyikan, atau bahkan pergulatan batin yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Karena itulah, sebelum menilai seseorang, belajarlah untuk memahami keadaannya. Bisa jadi yang ia butuhkan bukanlah nasihat yang panjang, melainkan satu kalimat yang menguatkan dan membuatnya yakin bahwa ia tidak sedang berjuang sendirian.
“Berbaik hatilah pada sesama, karena setiap orang yang kita temui sedang menghadapi perjuangan yang lebih berat.” (Plato)
Kalimat sederhana ini mengajarkan kita untuk tidak mudah menghakimi. Di balik senyuman seseorang, mungkin ada air mata yang disembunyikan. Di balik sikap yang tampak biasa, mungkin ada ujian yang sedang ia perjuangkan seorang diri.
Saya teringat sebuah kisah tentang seorang perempuan yang telah lama menantikan kehadiran buah hati. Bertahun-tahun ia berikhtiar dan berdoa. Di hadapan banyak orang ia tetap tersenyum, tetapi hanya Allah Swt yang mengetahui betapa sering ia menangis dalam sujudnya.
Suatu hari, seorang sahabat datang menemuinya. Ia tidak memberikan ceramah panjang, tidak pula bertanya mengapa Allah belum mengabulkan doanya. Dengan penuh empati ia hanya berkata,
“Alhamdulillah, Allah masih memberikan kita kesehatan. Banyak saudara kita yang bukan hanya sedang menantikan hadirnya seorang anak, tetapi juga sedang berjuang melawan penyakit. Selama Allah masih memberi kita kesehatan, berarti Dia masih memberi kita kesempatan untuk terus berikhtiar, berdoa, dan berharap kepada-Nya.”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana bagi orang lain. Namun, bagi perempuan tersebut, kata-kata itu menjadi penyejuk hati. Masalahnya memang belum selesai, tetapi hatinya menjadi lebih tenang. Ia merasa dipahami, bukan dihakimi; dikuatkan, bukan dikasihani.
Sejak saat itu saya memahami bahwa terkadang seseorang tidak membutuhkan jawaban atas semua persoalannya. Ia hanya membutuhkan seseorang yang hadir dengan empati dan mengingatkannya akan nikmat Allah yang masih dimiliki.
Ada pula sebuah kisah yang tidak kalah menyentuh. Seorang sahabat pernah bermimpi bertemu dengan sahabatnya yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Dalam mimpi itu, wajah sahabatnya tampak begitu tenang dan penuh kebahagiaan.
Hal pertama yang diucapkannya bukanlah keluhan, melainkan ucapan terima kasih.
“Terima kasih atas kata-kata yang dahulu pernah engkau sampaikan kepadaku.”
Sahabat yang bermimpi itu pun bertanya dengan heran,
“Kalimat yang mana?”
Ia menjawab,
“Ketika aku hampir putus asa menghadapi hidup, engkau pernah menasihati ku agar tetap bersabar, berbaik sangka kepada Allah, dan tidak berhenti berbuat baik kepada sesama. Nasihat itu terus terngiang dalam hatiku. Aku berusaha mengamalkannya hingga akhir hayat ku. Atas rahmat Allah, amal-amal yang lahir dari nasihat itu menjadi sebab datangnya berbagai karunia dan kebaikan yang kini kurasakan. Karena itulah aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu.”
Sahabat itu terbangun dengan hati yang bergetar. Ia tidak pernah menyangka bahwa beberapa kalimat yang dahulu diucapkannya dengan tulus ternyata menjadi titik balik kehidupan sahabatnya. Sejak hari itu ia semakin yakin bahwa tidak ada ucapan baik yang sia-sia di sisi Allah Ta’ala.
Dua kisah ini mengajarkan satu pelajaran yang sangat berharga. Kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia bisa melukai, tetapi juga bisa menyembuhkan. Ia bisa mematahkan semangat, tetapi juga mampu membangkitkan harapan. Bahkan, satu nasihat yang tulus dapat menjadi sebab lahirnya amal-amal saleh yang pahalanya terus mengalir.
Karena itulah Allah Ta’ala berfirman,
“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 83)
Ayat ini mengingatkan bahwa lisan seorang mukmin hendaknya menjadi sumber ketenangan, bukan sumber luka.
Rasulullah ﷺ juga bersabda,
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Beliau ﷺ juga bersabda:
“Perkataan yang baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan dalam hadis yang lain Beliau ﷺ bersabda:
“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim).
Beberapa hadis ini mengajarkan bahwa kebaikan tidak selalu berupa harta atau tenaga. Terkadang, sedekah yang paling mudah adalah sebuah ucapan yang menenangkan hati, menghidupkan harapan dan mengarahkan seseorang kepada jalan kebaikan.
Pendiri Jemaat Ahmadiyah juga mengajarkan bahwa kecintaan kepada Allah Ta’ala harus tercermin dalam kecintaan kepada sesama manusia. Beliau berulang kali menasihatkan agar setiap mukmin menjadi penolong bagi siapa pun, menjaga lisannya dari menyakiti hati orang lain, dan menebarkan kasih sayang kepada seluruh umat manusia. Sebab seseorang tidak akan mencapai derajat takwa yang sejati jika masih gemar melukai hati sesama.
Mungkin kita tidak mampu menghapus seluruh kesedihan yang dirasakan orang lain. Namun kita selalu mampu memilih untuk tidak menambah bebannya. Kita selalu mampu menghadiahkan senyum, doa, perhatian, dan kata-kata yang menumbuhkan harapan.
Maka, berbaik hatilah kepada siapa pun. Jangan mudah menghakimi, karena kita tidak pernah benar-benar mengetahui perjuangan yang sedang mereka hadapi.
Bisa jadi, satu kalimat yang kita ucapkan hari ini menjadi alasan seseorang tetap bertahan menghadapi hidup. Dan bisa jadi pula, sebagaimana kisah sahabat tadi, kalimat itu menjadi sebab lahirnya amal-amal kebaikan yang terus mengalir pahalanya hingga setelah kita meninggalkan dunia.
Views: 27
