Ajaran Islam yang Hakiki untuk Berkasih Sayang

Dalam tradisi Islam, tidak ada sosok manusia yang paling berpengaruh selain Nabi Muhammad saw. Ia adalah pembawa risalah Islam, dialah Rasulullah SAW, yang ajarannya mengedepankan rasa kasih sayang dan kemanusiaan. Ucapan dan perilakunya adalah sunnah (hadist) yang menjadi salah satu sumber rujukan hukum Islam setelah Al-Qur’an.

Nabi Muhammad saw. adalah sosok teladan bagi nilai-nilai moralitas, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Meski merupakan pemimpin tertinggi Islam, Nabi saw. merupakan sosok yang berkomitmen penuh pada terciptanya kesetaraan, kasih sayang, kemanusiaan dan keadilan. Akhlaknya yang lembut dan tidak pernah membalas dendam dengan dendam, melawan kekerasan dengan kekerasan, adalah bukti keteladanannya yang baik dan layak diterapkan saat ini.

Salah satunya adalah kisah ketika Rasulullah saw. akan berhijrah ke Thaif. Pada sekitar Juni 619 M, Nabi saw. dan beberapa pengikutnya berangkat hijrah dari Mekkah menuju Tha’if untuk bertemu kepala suku. Tujuan utamanya tentu mengajak mereka memeluk Islam. Sayangnya, warga Thaif menolak ajakan Nabi. Mereka takut jika menerima dakwah Nabi, warga Mekkah marah kepada mereka.

Akibatnya, warga Thaif melempari Nabi dengan batu, sampai beliau pun harus lekas keluar dari Tha’if. Dikabarkan beliau terluka hingga harus berlindung di kebun buah dan bernaung di bawah pohon anggur. Alih-alih melakukan perlawanan dan menyerang balik warga Thaif, beliau justru memohon ketenangan dan kedamaian kepada Tuhan semesta, seraya berdoa agar generasi Thaif selanjutnya mau menerima dakwahnya.

Ketika itulah Allah Swt. mengutus malaikat Jibril dan para malaikat lainnya menemui Nabi saw. Ketika itu pula Nabi ditawari para malaikat agar Thaif dihancurkan dan dijepit di antara gunung-gunung yang ada sebagai balasan atas perlakuan buruk mereka. Namun dengan keluhuran akhlak dan belas kasihannya kepada mereka yang belum mendapat hidayah-Nya, Nabi menolak tawaran tersebut. Begitulah cara Nabi saw. menghadapi perlakuan tidak menyenangkan dari warga Thaif.

Selain itu, Nabi Muhammad saw. semasa hidupnya mampu mengubah kondisi masyarakat Arab dari keterbelakangan (jahiliyah) menuju masyarakat yang beradab. Dan mereka juga mengakui kualitas pribadi Nabi Muhammad saw. sebagai sosok yang cerdas dan selalu menghindarkan diri dari perilaku kekerasan. Serta, dalam memberikan keputusan, beliau saw. senantiasa berpikir dahulu sebelum berbicara sehingga perilaku dan tindakannya sesuai dengan apa yang diucapkan.

Catatan kehidupan beliau saw., mulai dari kelahirannya sampai wafat, telah sampai kepada kita secara luas, menyeluruh, teliti dan meliputi banyak hal sehingga memberikan wawasan lebih. Bahkan hidup beliau saw. sendiri merupakan buku yang terbuka, dimana kepribadian beliau yang suci senantiasa bersinar terang.

Kini, setelah 14 abad lamanya Nabi Muhammad saw. wafat, kondisi dunia Islam secara umum bisa dikatakan memperihatinkan, mungkin bisa dikatakan mengalami krisis kemunduran. Rasulullah saw. mengajarkan pada tiap muslim untuk mencintai diri sendiri dan juga mencintai orang lain.

Hal ini sudah disebutkan dalam HR. Bukhari dan Muslim yang berbunyi, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) hingga ia mencintai untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri.”

Dunia Islam saat ini mendambakan seorang pemimpin dunia yang konsisten dalam upaya menyebarkankan pesan perdamaian Islam ke seluruh dunia serta komitmen untuk melayani umat manusia. Hal ini selaras dengan visi misi Jemaat Muslim Ahmadiyah, Love For All Hatred For None (Cinta Untuk Semua Kebencian Tidak Untuk Siapapun).

Motto inipun sesuai dengan sabda dari pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Hazrat Masih Mau’ud Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s., “Tunjukanlah sikap belas kasih kepada hamba-Nya. Janganlah berbuat aniaya terhadap mereka, baik dengan mulut atau dengan tanganmu, maupun dengan cara-cara lain.”

Sampai saat ini Jemaat Muslim Ahmadiyah tetap konsisten dalam menerapkan motto perdamaian dan kasih sayang. Di bawah kepemimpinan Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba., Khalifah Islam Ahmadiyah kelima, beliau sampai saat ini selalu konsisten dan aktif dalam menyuarakan perdamaian khususnya di negara-negara konflik dan dunia.

Pemimpin Dunia Jemaat Muslim Ahmadiyah, Khalifatul Masih Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba. menyampaikan pidato bersejarah pada 8 Oktober 2019 di Markas Besar (UNESCO) di Paris dan pada tanggal 17 Oktober 2016 di Parlemen Nasional Kanada di Ottawa, ibu kota Kanada. Dalam kesempatan pidatonya, beliau selalu senantiasa menyampaikan pesan perdamaian pada pemimpin-pemimpin negara sebagai wujud bentuk kasih sayang meneruskan ajaran Rasulullah saw..

Salah satu yang beliau sampaikan adalah, “Pada akhirnya, saya berdoa dengan sepenuh hati semoga umat manusia dapat meninggalkan keserakahan dan melupakan upaya memenuhi kepentingan pribadi, sebaliknya mereka berfokus untuk menghilangkan penderitaan dan kesedihan orang-orang di dunia.”

Semoga kita bisa mencapai tujuan penciptaan kita di dunia, yakni menjadi perwujudan sifat-sifat Allah Ta’ala. Salah satunya adalah mewujudkan dan menyebarkan kasih sayang sehingga dunia yang penuh kedamaian dan kerukunan tercipta di setiap sudutnya. Aamiin Allaahumma Aamiin.

Visits: 54

Euis Mujiarsih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *