EGO SESAAT, BISA BAWA BENCANA HEBAT

Air mataku tumpah ruah. Tak kuat merasakan sedih saat membaca headline sebuah berita tentang gugurnya seorang petugas medis yang biasa membawa ambulans Dinkes DKI Jakarta. Namanya Shelly Zeindia Putri.

Aku tak kenal siapa Shelly. Tapi gugurnya ia di medan pengkhidmatan sungguh mengganggu nuraniku. Apalagi saat aku membayangkan, andai ia putriku.

Shelly pergi di usia yang sangat muda. Belum sempat mencicipi indahnya Ramadhan, perempuan yang telah bertunangan ini harus meninggalkan orang-orang tercintanya.

Kepergian Shelly menyisahkan luka yang mendalam di hati orang-orang terkedatnya. Orang tua, saudara, karib kerabat, bahkan tunangan yang tengah membangun sebuah istana impian tentang indahnya hari esok.

Kepergian Shelly ke tempat peristirahatan terakhir tanpa iringan keluarga. Rekan kerja dan tunangannya dengan tegar berbaris di sisi jalan melepas ambulans yang membawa jenazahnya.

Kawan kawan yang tetap memakai pelindung dan tunangan Shelly , dengan tegar mereka hanya mampu berbaris di sisi jalan melepas ambulan yang mengantar Shelly keperistirahatan terakhir.

Shelly bukan orang yang pertama dan terakhir. Ada lagi nama pejuang di garda terdepan melawan covid-19 yang gugur dalam usia muda. Namanya, dr Michael Robert Marampe asal Sulawesi Utara.

Takdirnya jauh melampaui Shelly. dr Michael memutuskan untuk menunda pernikahannya hanya untuk ikut serta di barisan terdepan melawan virus mematikan ini.

Entah seperti apa pilu yang tengah dikecap oleh orang tua juga tunangan yang tengah menantikan masa-masa bahagia dalam hidup mereka.

Tragis memang. Bagaimana kisah cinta para petugas medis harus kandas diterjang amukan covid-19. Tapi pengorbanan kalian tidak akan pernah sia-sia. Akan selalu dikenang oleh banyak orang.

Dan miris, ketika para petugas medis tengah bertaruh nyawa untuk keselamatan kita, sebuah headline berita muncul tentang petugas kepolisian yang menyuruh agar semua kendaraan pemudik putar balik kembali ke tempatnya masing-masing.

Mereka yang berasal dari zona merah, tidak berfikir jauh kedepan. Bagaimana ketika mereka pulang nanti? Apakah mereka tega menjadi jalan bagi virus-virus itu untuk menjangkiti orang-orang yang mereka sayangi?

Para petugas medis, yakni dokter, perawat, petugas ambulans dan petugas medis lainnya telah memohon di berbagai media dengan menyatakan bahwa mereka sudah sangat lelah, mereka juga ingin bertemu keluarga.

Mereka mengatakan, “Tolong kami, bantu kami dengan tetap di rumah saja.”

Pemerintah dan para pemuka agama juga telah menghimbau umatnya untuk mengikuti aturan pemerintah untuk “tidak mudik” dulu pada tahun ini.

Kita semua tahu, betapa beratnya ramadhan tanpa perbanyak ibadah di masjid.

Kita juga semua tahu, betapa hampanya ramadhan tanpa ditutup dengan mudik, halal bi halal, silaturahmi dengan keluarga di kampung halaman.

Tapi perang belum usai. Jangan sampai untuk kesenangan sesat kita justru malah memberikan kesempatan musuh untuk menambah jumlah pasukannya. Hingga akhirnya kita makin kelelahan. Hingga akhirnya mereka yang berada di garda terdepan makin banyak yang berguguran.

Tentu semua itu, tidak ada satu orang waras pun di dunia ini yang menginginkannya. Jangan sampai ego sesaat menciptakan musibah yang hebat.

Hits: 6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories