“Saya Juga Orang Ahmadiyah”

Itulah reaksi spontan saya yang amat tiba-tiba, saat beberapa rekan guru tengah membicarakan peristiwa 15 Juli 2005. Seketika ruangan sunyi. Dan hari itu menjadi hari terakhir saya mengajar di sekolah tersebut.

—–

15 tahun silam, ribuan orang yang tergabung dalam Masyarakat dan Umat Islam Parung Bogor dan Jakarta mengepung dan menyerang Markas Jemaat Ahmadiyah yang terletak di Parung.

Masih lekat dalam ingatan, wajah-wajah garang, makian-makian kotor, pekik Asma Ilahi digaungkan dengan tak beradabnya, dan tanpa rasa malu melabeli diri sebagai “orang Islam” yang tengah membela Islam.

Ya, saat itu kami menangis. Mendung duka menggayut kelam di atas tanah kami. Tapi sungguh, kami tak menangisi diri kami. Tapi lara itu lebih terasa karena Islam agama kami, agama yang mengajarkan untuk damai dan penuh cinta kasih, hari itu telah diinjak-injak dan dijadikan alat pembenaran atas nafsu-nafsu manusia, melegalkan kebencian yang menyelimuti hati dan pikiran mereka, membenarkan tindakan tak berperikemanusiaan yang dipertontonkan layaknya drama penuh angkara.

Kami, yang saat itu mendapat tugas di Nusa Tenggara Barat, juga tak luput dari percikannya. Percikan yang tak kalah perihnya melukai hati. Saat itu, saya sedang mengabdikan diri sebagai guru honor di sebuah sekolah swasta milik suatu Organisasi Keagamaan.

Berbekal wejangan dari Bapak Amir Nasional dan Bapak Raisuttabligh saat itu, ketika kami hendak berangkat menunaikan tugas. “Istri Tuan Sarjana Pendidikan, nanti di sana, berkhidmat lah kepada masyarakat sekitar dengan apa yang bisa kalian berikan, jika mampu mengajar, mengajarlah”, begitu kurang lebih amanah yang diberikan kepada kami.

Dan peluang untuk berkhidmat pun akhirnya tiba. Di sebuah sekolah swasta kecil, saya mengabdikan diri. Jangan pernah ditanya berapa honor yang saya terima. Tidak. Sama sekali tidak saya lihat berapa lembar jumlah uang yang masuk ke kantong saya sebagai upah mengajar.

Saat pertama memasuki sekolah itu, trenyuh saya melihat kondisi sekolah, melihat siswa-siswanya dan seluruh aspek pendidikan yang jauh dari kata terstandarisasi.

Berbekal ilmu kependidikan, saya berikan yang terbaik di tempat ini. Geliat sekolah mulai terasa. Guru-guru tak sungkan menimba ilmu, kita berbagi dan memberi. Sekolah menaruh harap yang tinggi manakala mengetahui, lulusan dari mana guru honor baru ini.

Para siswa pun seolah menemukan denyut baru dalam pembelajaran. “Coba ada guru seperti Ibu sejak dulu disini”, begitu komentar sebagian siswa. Bahagia rasanya, saat kita bisa memberikan sesuatu untuk sesama.

Namun, tragedi 15 Juli 2005 merubah segalanya. Padahal, belum genap 5 bulan saya mengabdikan diri.

Beberapa hari pasca kejadian, hiruk pikuk guru-guru di sekolah membahas insiden itu. Tentu dari sudut pandang mereka, yang jelas mendukung tindakan itu, yang jelas tak menyukai keberadaan Ahmadi. Mendengar ucapan demi ucapan itu, bilah-bilah sembilu terasa menyayat kalbu.

Sedih, marah, tidak terima, terhina, campur aduk dalam hati. Entah kekuatan darimana, saya memotong pembicaraan di kantor sekolah itu dengan satu kalimat saja, “Saya juga orang Ahmadiyah”. Hanya itu yang terucap dari mulut saya. Sementara hati sibuk berdzikir, berusaha mengontrol diri.

Kalimat singkat itu serta merta membungkam semua obrolan. Semua hening dengan ekspresi tak percaya. Mereka membicarakan Ahmadiyah di depan orang Ahmadiyah. Tanpa aba-aba, entah dari siapa bermula, ruang kantor itu pun sepi sudah. Masing-masing segera membubarkan diri. Tinggallah saya dan kepala sekolah.

Saya hanya duduk diam. Tiba-tiba Kepala Sekolah mengatakan sesuatu. “Bu, kenapa Ibu mengaku sebagai orang Ahmadiyah? Seharusnya Ibu diam saja, atau Ibu beritahukan kepada saya, jangan kepada semua orang”. Dan obrolan saya terus berlanjut dengan Kepala Sekolah. Hingga akhirnya saya pamit pulang.

Keesokan hari, saya tunaikan tugas seperti sediakala. Namun, saat sedang di kelas seorang staff sekolah masuk dan menyampaikan bahwa saya di panggil ke ruang Kepala Sekolah.

Bismillaah, Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billaah. Saya penuhi panggilan itu.

Dan … Lho lho???

Di ruangan itu rupanya bukan hanya ada Kepala Sekolah, tapi sudah duduk rapi Pimpinan Yayasan, Pimpinan Wilayah organisasi pemilik sekolah itu, Kepala Sekolah, beberapa Guru dan Staff.

Semuanya laki-laki, yang menyambut saya di ruangan itu dengan tatap siap mengadili seorang terdakwa. Bak pesakitan saya duduk di hadapan mereka. Hati terus saja berdzikir, berdoa, Ya Rabb, saya seorang diri diantara para pembemci, datangkanlah malaikat-Mu untuk menolongku, mudahkanlah lisanku untuk menjawab semua pertanyaan mereka.

Innii maghluubun fantashiir“, berulang-ulang doa itu saya baca.

Satu persatu mereka bertanya, “Ibu, benar orang Ahmadiyah?”.

” Ya, saya orang Ahmadiyah”. Sesingkat itu saya jawab.

Diikuti beruntun pertanyaan lainnya, yang saya jawab dengan lugas, tanpa ada ragu atau takut sekalipun. Saya juga heran, kenapa saya bisa seperti ini. Hingga sampai pada satu kalimat akhir dari mereka:

“Ibu tidak boleh lagi mengajar di sekolah ini, karena Guru-guru tidak menginginkannya, dan banyak orangtua siswa yang memprotes kehadiran Ibu di sekolah ini. Mereka tidak mau, Ibu mempengaruhi anak-anak mereka”.

Ketua Yayasan mengakhiri sidang sepihak yang dilakukan tanpa agenda dakwaan, tanpa pengacara, tanpa jaksa, yang ada hanyalah para hakim yang serta merta membuat putusan.

Saya hanya tersenyum. Segera berlalu dari hadapan mereka. Masuk kembali ke kelas, bukan untuk mengajar, tapi berpamitan kepada murid-murid saya.

Di luar dugaan, beberapa siswa malah menangis, siswa perempuan ada yang memeluk, terisak. “Ibu, jangan pergi dari sekolah ini, kami butuh guru seperti Ibu”. Berkecamuk perasaan saat itu. Tapi tetap harus kutinggalkan sekolah ini. Segera berkemas dan pulang, dan resmi vacuum mengajar.

Lemah rasanya seluruh sendi. Bak tentara yang kembali dari medan perang.

Ketika saya ceritakan kejadian itu kepada suami. Saya kira akan ada tanggapan atau reaksi yang waahh gimana gitu. Ternyata tidak. Istrinya mendapat perlakuan seperti itu, suami saya malah segera menyusun rencana.

“Kita silaturahmi ke rumah Pimpinan Wilayah nya yuk?”, begitu suami saya bilang.

Kumpulkan beberapa buku dan VCD untuk kita bawa”, ucapnya.

Saya yang masih berusaha mengumpulkan kembali kekuatan, akhirnya mengikuti rencana suami. Kami pun mencari informasi alamat rumah Pimpinan Wilayah sebuah organisasi keagamaan yang menaungi sekolah itu.

Ternyata mudah menemukan alamat tokoh terkenal. Ternyata tidak terlalu jauh dari rumah kontrakan tempat kami tinggal di Kota itu.

Pertemuan pun terjadi. Kami di terima dengan ramah di rumahnya. Perlakuan yang jauh berbanding terbalik ketika sidang di sekolah. Dari obrolan itu, tersirat sebuah pengakuan bahwa sekolah pun menyayangkan saya harus keluar. Bukan karena saya tak becus mengajar, tapi karena saya orang Ahmadiyah lah keputusan itu diambil.

Buku-buku dan VCD yang kami bawa pun diterima dengan baik. Sejak itu, kami pun semakin terkenal sebagai orang Ahmadiyah. Dan pintu tabligh terbuka luas untuk kami.

Pengobatan Homeopati mulai kami kenalkan kepada masyarakat sekitar. Responnya sangat baik. Beberapa tetangga sering meminta homeopati ke rumah ketika ada anggota keluarganya yang sakit. Kami pun semakin akrab dengan masyarakat sekitar. Setiap ada acara di kampung itu, kami selalu hadir membantu.

Dengan ini, antipati pun terpupus pelan, menjadi simpati dan kekeluargaan. Ketika banyak hujatan kepada Jemaat, bahkan ketika terjadi tragedi Pancor, dan suami meninggalkan saya sendiri untuk membantu anggota, salah seorang tetangga malah menguatkan kami, “Tenang saja kami yang akan menjaga istri bapak.”

Dan apa yang terjadi setelah pemberhentian sepihak sebagai guru honor?

Selembar Surat Keputusan (SK) pengangkatan sebagai Pegawai Negeri Sipil diterima. Karena data saya sebagai guru honor tetap tercatat di Dinas Pendidikan setempat, dan diajukan bersama guru honor lainnya, ketika Peraturan Menpan saat itu mensyaratkan Pemerintah Daerah untuk mengangkat guru honor sebagai PNS.

Pasti semua orang akan mengira kami bahagia. Tidak. Kami bingung. Harus bagaimana dengan SK itu. Karena sejak awal, tidak terpikir sedikit pun untuk menjadi seorang PNS.

MasyaAllah, pertolongan Allah dan kasih sayang-Nya hadir begitu indahnya. Maka, tak ada alasan bagi kita untuk menutup jati diri. Meskipun tidak mudah, tapi sayap-sayap perlindungan-Nya akan senantiasa menaungi kita.

Ai Yuliansah

10 thoughts on ““Saya Juga Orang Ahmadiyah”

  1. Pertolongan Allah Ta’ala yang luar biasa. Banyak hikmah dibalik kisah ini semua. Alhamdulillah.
    Tetap lah berikan yg terbaik untuk pengabdian pada anak bangsa.
    Mubarak

  2. Luar biasa, MashaAllah. pengalaman manisnya iman yang mudah2an akan menginspirasi saudara yang lainnya. mubarak

  3. Isteri sy juga pernah mengajar di MI dan Madrasah Diniyah. Terang terangan mengaku Ahmadi hingga akhirnya….. Mubarak. Kisahnya menginspirasi. Jazakumullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *