Tetap Teguh dalam Keimanan Walau Kesulitan Hidup Mendera

Abdullah bin Mas’ud atau Ibnu Mas’ud, salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw. yang tekun dalam mempelajari ilmu agama. Dia hidup sederhana, kadang-kadang hanya memiliki cukup makanan untuk dirinya sendiri. Meskipun sederhana, dia sangat tekun dalam ibadah dan memperdalam pemahamannya tentang Islam.

Ibnu Mas’ud banyak menghadapi kesulitan selama masa hidupnya. Dia memilih untuk mengikuti ajaran Islam meskipun itu berarti dia harus menghadapi siksaan dan penindasan dari orang Quraisy di Makkah.

Tak hanya itu, Ibnu Mas’ud juga mengalami kesulitan ekonomi yang cukup berat di masa awal Islam. Salah satunya terjadi ketika dia dan keluarganya mengalami kelaparan yang parah sehingga mereka terpaksa memakan daun-daun pohon untuk bertahan hidup. Bahkan pernah menjual barang-barangnya untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya.

Mengetahui hal itu, Umar bin Khattab r.a., khalifah saat itu, mengundangnya untuk menerima bantuan dari baitul mal (kas negara). Awalnya, Ibnu Mas’ud enggan menerima bantuan tersebut karena rasa malu, tetapi Umar meyakinkannya bahwa itu adalah haknya sebagai seorang Muslim.

Meskipun menerima bantuan dari baitul mal, Ibnu Mas’ud tetap memprioritaskan ibadah dan pengetahuan agama. Dia terus mengajar dan menyebarluaskan ilmu yang dia pelajari kepada orang lain, meskipun dalam kondisi kesulitan ekonomi.

Meskipun dalam kondisi sulit, dia tetap teguh dalam iman dan tekadnya untuk mendukung agama Islam. Ibnu Mas’ud tidak pernah mengeluh atau menyalahkan nasibnya. Meskipun hidup dalam keterbatasan, Abdullah bin Mas’ud tetap tenang, tegar dan tetap bersyukur. Dia percaya bahwa Allah selalu bersamanya. karena yakin bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuannya.

Walaupun hidup dalam kesusahan, Ibnu Mas’ud tetap murah hati dan selalu berbagi apa yang dia miliki kepada yang membutuhkan. Dia memberikan bantuan kepada fakir miskin dan membantu mereka yang membutuhkan nasihat agama.

Kisah Ibnu Mas’ud mengajarkan kita tentang keteguhan hati, keberanian, dan pengabdian terhadap agama, bahkan dalam menghadapi kesulitan ekonomi. Dia adalah contoh nyata dan teladan bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan yang sederhana namun bermakna, serta tetap gigih dalam mengejar ilmu dan kebaikan meskipun dihadapkan pada tantangan ekonomi. Ibnu Mas’ud menerima ujian dalam hidupnya dengan ketenangan dan keyakinan bahwa Allah selalu menyertai mereka dalam setiap langkahnya.

Allah Swt. mendatangkan masalah kepada umat manusia sebagai ujian dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Masalah setiap manusia itu pun jelas sangat berbeda-beda. Allah Swt. memberikan ujian berupa masalah kepada umatnya sesuai dengan kemampuan manusia yang akan diuji, dan tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan hambanya.

Sebagaimana dalam firman Allah Swt., “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah 2: 287)

Lantas bagaimana dengan kita, jika menghadapi kesulitan dalam hidup? Apakah kita akan mengeluh dan menyerah begitu saja dengan takdir? Atau lebih memilih berdamai dengan diri, introspeksi dan berusaha untuk menghadapinya dengan penuh keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. seperti kisah sahabat Rasulullah saw. di atas?

Ketika kita menghadapi kesulitan hidup, itu adalah ujian untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Yakinlah, dengan usaha dan memohon pertolongan Allah Swt. Insyaallah pertolongan-Nya akan hadir tanpa diduga-duga. Manakala pertolongan Allah itu sudah turun, tidak ada seorang pun yang mampu menahan dan mencegahnya. Bahkan, sesuatu yang dipandang mustahil oleh manusia justru bisa terjadi melampaui nalar dan rencananya.

Allah Maha Kuasa, Pengasih, dan Penyayang. Hebatnya, pertolongan Allah Swt. ini terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Insyirah (94) ayat 5 dan ditegaskan kembali di ayat 6, artinya: “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” Tak sebatas dekat, pertolongan Allah Swt. juga maha dahsyat dan menakjubkan turun kepada orang-orang atau segolongan umat yang diridhai-Nya.

Visits: 62

Liana S. Syam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *