Menabur Benih di Dunia, Menuai Surga di Akhirat
Al-Qur’an mengingatkan kita bahwa seseorang tidak akan pernah mencapai puncak kebaikan yang sempurna sebelum ia rela membelanjakan sebagian dari apa yang paling dicintai, dan apapun yang dibelanjakan di jalan Allah Ta’ala.
“Sekali-kali kamu tidak akan mencapai kebaikan (sempurna), sebelum kamu membelanjakan sebagian dari apa yang kamu cintai, dan apa pun yang kamu belanjakan, maka sesungguhnya tentang itu Allah Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 93)
Firman ini bukan sekadar seruan, melainkan sebuah tawaran jalan menuju kebahagiaan sejati yang sering kali kita lewatkan karena terlalu sibuk mengejar kemewahan dunia.
Alkisah, hiduplah seorang petani bernama Pak Rasmita. Ia dikenal sebagai orang yang sangat sederhana, meskipun sebenarnya ia memiliki ladang yang luas dan hasil panen yang melimpah. Suatu hari, ia kedatangan seorang tetangga muda yang sedang dilanda kegalauan karena utang yang menumpuk. Pemuda itu bertanya dengan penuh harap, “Pak, saya bingung. Pendapatan saya pas-pasan, tapi setiap bulan selalu ada saja kebutuhan mendesak yang membuat saya harus berutang. Bagaimana cara Bapak bisa selalu tampak tenang dan bahagia meskipun tidak hidup mewah?”
Mendengar pertanyaan itu, Pak Rasmita tersenyum. Ia lalu bercerita tentang kebiasaan sederhananya: setiap kali panen tiba, ia selalu menyisihkan sebagian hasil terbaiknya untuk disedekahkan kepada tetangga, anak yatim, dan masjid. “Awalnya saya takut kehilangan,” katanya jujur. “Tapi semakin saya memberi, hati saya semakin lapang. Rezeki saya tidak pernah habis, malah terasa berkah. Saya belajar bahwa kebahagiaan bukan soal berapa banyak yang kita kumpulkan, tapi seberapa ikhlas kita berbagi.”
Pemuda itu tertegun. Ia mulai menyadari bahwa selama ini ia hanya berorientasi pada menumpuk harta, tanpa pernah merasakan ketenangan hati yang datang dari amal dan kesederhanaan.
Kisah Pak Rasmita ini dengan indah menggambarkan apa yang telah diuraikan oleh Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra. dalam Tafsir Saghirnya. Beliau menjelaskan bahwa kebaikan sempurna yang menjadi inti keimanan sejati dan bentuk tertinggi kebajikan hanya dapat diraih jika seseorang siap mengorbankan segala sesuatu yang disayanginya.
Taraf tertinggi itu tidak cukup hanya dengan ucapan, melainkan harus dibuktikan dengan membelanjakan di jalan Allah Ta’ala apa yang paling dicintai. Tanpa menyerap jiwa pengorbanan yang tulus, akhlak luhur mustahil dapat terwujud.
Pak Rasmita rela melepaskan hasil panen terbaiknya, bukan karena ia tidak membutuhkannya, melainkan karena ia meyakini bahwa di balik pemberian itu ada ganjaran yang jauh lebih besar dari Allah Ta’ala.
Karena itulah, kita harus senantiasa berhati-hati dan tidak boleh melangkahkan kaki walau hanya selangkah ke arah yang bertentangan dengan ajaran Tuhan dan petunjuk Al-Qur’an.
Sebuah peringatan tegas pernah disampaikan bahwa barangsiapa mengabaikan perintah sekecil apapun di antara tujuh ratus perintah Al-Qur’an, ia sedang menutup pintu keselamatan bagi dirinya sendiri dengan tangannya sendiri. Sebab, jalan keselamatan yang hakiki dan sempurna hanyalah yang dibuka oleh Al-Qur’an, sementara semua jalan lainnya hanyalah bayangan yang kelak sirna.
Hadhrat Masih Mau’ud as. pun mengingatkan kita untuk terus menelaah isi Al-Qur’an dan berusaha sungguh-sungguh mengamalkannya dalam setiap hembusan napas kehidupan.
Kasih sayang Allah Ta’ala memang sangat luas. Karena itu, sebagian hamba bisa meraih rida-Nya melalui berbagai amal dan perbuatan bajik yang beragam. Namun, kita tidak boleh lupa akan firman-Nya yang menegaskan agar jangan menganggap hidup di dunia ini sebagai segalanya, sebab kehidupan yang hakiki sesungguhnya baru bermula setelah kita meninggal.
Oleh karena itu, membangun hubungan yang erat dengan Allah Ta’ala dan menaati perintah-perintah-Nya adalah perkara yang sangat penting. Ketika seseorang dengan sungguh-sungguh berupaya mencari rida Ilahi dan berjalan di jalan yang telah Dia tunjukkan, maka bukan hanya akhir hidupnya yang akan sejahtera, melainkan kebahagiaan dan kecukupan duniawi pun akan mengiringi langkahnya.
Ini pula yang diperkuat oleh firman-Nya bahwa,
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)
Janji ini sejalan sekali dengan makna hidup qana’ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang ada, serta hidup sederhana yang menjadi salah satu tuntutan dalam Tahrik Jadid yang dicanangkan oleh Hadhrat Khalifatul Masih ke II ra. Dengan hidup sederhana, pengeluaran sehari-hari bisa lebih terkendali, sehingga ruang untuk beramal dan membelanjakan harta di jalan Allah Ta’ala menjadi lebih luas.
Pak Rasmita tidak menunggu kaya untuk mulai berbagi; ia memulai dari kesederhanaan dan berpegang teguh pada keyakinan bahwa Allah Ta’ala-lah yang akan melipatgandakan pahala sekaligus keberkahan dalam hidupnya.
Teladan ini mengajarkan kita semua bahwa bahagia tidak harus mahal, dan dekat dengan Allah Ta’ala tidak butuh harta melimpah, melainkan butuh hati yang lapang dan tangan yang ringan memberi. Insya Allah, dengan langkah kecil yang konsisten ini, hidup kita akan terasa lebih tenang, tenteram, dan dipenuhi kebahagiaan yang tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga akan kita petik buahnya kelak di akhirat.
Sumber :
1. Al-Quran Terjemahan dan Tafsir Saghir, Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a
2. Bahtera Nuh, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s
3. Khotbah Jumat Hadhrat Mirza Masroor Ahmad ABA, Masjid Baitul Futuh, UK, 05 Mei 2017
Views: 9
