Silaturahmi, Kasih Sayang dan Keteguhan di Cilame
Hari itu, langkah kaki kami tidak sekadar bergerak menempuh jarak, tetapi menembus batas-batas empati. Rombongan kami berangkat dari cabang Neglasari menuju Ranting Cilame dengan satu niat yang hangat: bersilaturahmi sekaligus menjenguk Ibu Siti yang baru saja dikaruniai putri keduanya.
Perjalanan ini seru, menyenangkan, namun sekaligus memberi tantangan tersendiri. Kami memilih melewati jalan pintas—sebuah jalur yang dahulunya sering melukis jejak langkah para anggota jemaat Cilame ketika hendak berkhidmat dan menghadiri kegiatan di Neglasari.
Rintangan demi rintangan kami lalui bersama. Kaki kami bergantian melangkah menyusuri pelataran rumah warga, meniti pematang sawah yang sempit, hingga menerobos rimbunnya kebun-kebun lokal.
Tantangan kian terasa saat kami menelusuri lorong-lorong jalan di bawah naungan rindangnya pohon bambu. Di bawah telapak kaki, guguran daun bambu kering yang tebal membuat pijakan terasa cukup licin dan menuntut kewaspadaan ekstra. Namun, justru di sepanjang rintangan itulah rasa haru perlahan merayap di dada.
Jika bagi kami perjalanan ini terasa menantang, terbayang bagaimana anggota jemaat Cilame bertahun-tahun yang lalu berkali-kali melewati rintangan yang sama—mungkin saat jalanan belum sebaik sekarang—adalah sebuah bentuk pengkhidmatan yang sangat menginspirasi. Kami baru merasakannya sekali, sementara mereka telah menjadikannya bagian dari denyut napas kecintaan mereka pada jemaat. Hingga akhirnya, rasa lelah itu terbayar tuntas saat kami tiba di kediaman Ibu Siti.
Senyum tulus dan hangat langsung menyambut kedatangan kami. Di rumah yang bersahaja itu, hidangan sederhana disajikan: olahan rumah seperti renyahnya opak, manisnya tape, serta cangkir-cangkir air putih pelepas dahaga. Masyaallah. Bagi kami, ini sama sekali bukan tentang apa atau seberapa mewah yang dihidangkan, melainkan tentang luapan kasih sayang dan ketulusan hati yang memancar dari cara mereka menyambut kami.
Di dalam ruangan yang penuh kehangatan itu, percakapan kami mengalir semakin dalam. Ibu Siti bersama sang ibu membagikan kisah perjuangan mereka sebagai seorang Ahmadi di lingkungan tempat tinggalnya. Mereka bercerita tentang getirnya rasa dikucilkan, dinomorduakan, hingga cemoohan dari kawan-kawan lama yang terkadang masih tersisa sampai hari ini.
Namun, tak ada sedikit pun nada keputusasaan dari bibir mereka. Tidak ada rasa takut, apalagi niat untuk menyerah. Mental mereka boleh jadi terus ditempa oleh ujian zaman, tetapi keyakinan dan semangat berkhidmat mereka tak pernah padam. Mereka tetap melangkah, tetap hadir dalam setiap kegiatan jemaat dengan dada tegak dan senyum mengembang.
Pulang dari sana, hati kami dipenuhi rasa syukur yang amat dalam. Perjalanan menyusuri tanah Cilame sore itu tidak hanya menguji ketahanan fisik kami, tetapi juga menampar dan memperbarui rasa syukur di dalam jiwa. Kami belajar tentang arti pengorbanan yang sesungguhnya—bahwa di balik sunyinya sudut-sudut Cilame, ada jiwa-jiwa hebat yang keteguhan imannya tak tergoyahkan oleh ujian apa pun.
Mengingat betapa beratnya jalan yang dulu harus mereka tempuh—bahkan napas kami saja sampai ngos-ngosan saat mencobanya kemarin—rasa syukur kian membuncah.
Benarlah janji Allah dalam QS. Al-Insyirah 94: 6-7, bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Perjuangan panjang itu kini membuah manis, salah satunya dengan hadirnya Salat Center di Cilame sebagai rumah ibadah dan pusat kegiatan mereka yang kami lihat hari ini.
Semoga ini menjadi motivasi untuk kita semua, bahwa dibalik segala rintangan telah menanti kebahagian.
Views: 9
