MENGHORMATI DAN MEMPERBAIKI PEMIMPIN
Menghormati pemimpin adalah salah satu ajaran dalam Islam. Dari mana pun asalnya, bagaimanapun latar belakangnya, selama seseorang telah memperoleh gelar sebagai pemimpin, Islam mewajibkan umatnya untuk menghormatinya.
Hazrat Rasulullah saw. bersabda, “Dengarlah dan taatilah sekalipun yang dijadikan pemimpin untuk kalian adalah seorang budak Habasyi, seolah-olah kepalanya seperti kismis.” (Bukhari, Kitabul Ahkam) Sekalipun seseorang yang menjadi pemimpin tersebut dalam pandangan kita memiliki kekurangan, ia tetap wajib dihormati karena kepemimpinannya.
Dalam salah satu khutbah Jumat yang disampaikan di Rabwah, Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad Khalifatul Masih II r.a. menyampaikan sebuah keluhan dari seorang mualaf perempuan:
“Keluhan lain yang disampaikan oleh perempuan mualaf tersebut adalah ketika pembicara yang menyampaikan khutbah saat saya tidak ada adalah orang yang gagap, dan para perempuan akan tertawa setiap kali dia melakukannya. Perilaku ini sangat disayangkan. Mengejek ketidakmampuan fisik seseorang adalah tercela dan memalukan. Lajnah Imaillah harus mengarahkan perhatian mereka pada hal ini. Pertama, karena seorang khatib [orang yang menyampaikan khutbah] memegang kedudukan yang terhormat dan disegani, khutbahnya harus didengarkan dengan hormat dan penuh penghargaan.
“Rasulullah SAW sangat berhati-hati dalam hal ini. Hazrat Bilal r.a. berasal dari Afrika dan tidak dapat mengucapkan dengan benar huruf Arab ‘syin’ [huruf Arab yang menghasilkan bunyi ‘sy’] serta beberapa huruf Arab lainnya. Tugasnya adalah mengumandangkan azan dan karena ketidakmampuannya mengucapkan beberapa bunyi tersebut, ia sering membuat kesalahan saat mengumandangkan azan. Para sahabat tertawa dan ketika Rasulullah SAW menyadari hal ini, beliau menegur mereka dengan berkata, “Aku melihat bahwa sebagian dari kalian tertawa ketika ia salah mengucapkan ‘syin’ menjadi ‘sin’ [huruf Arab yang menghasilkan bunyi ‘s’] dan kalian meremehkan Bilal r.a., padahal Allah duduk di surga dan memujinya.”
“Demikian pula, kalian juga berpikir bahwa gagapnya khatib adalah kelemahannya, tetapi Rasulullah SAW tidak menganggap hal ini pantas. Beliau selalu mengecamnya. Para pengurus perempuan harus berusaha untuk memperbaiki perilaku seperti itu. Khatib adalah salah satu dari kita dan jika kita menertawakan keterbatasan fisiknya, maka musuh-musuh kita akan merasa bebas untuk mencemoohnya. *Jika suatu bangsa tidak menghormati pemimpinnya sendiri, maka bangsa lain akan memperlakukan mereka sesuka hati.*” (Al-Muslih, 28 Januari 1954, hlm. 1-2)
Nasihat ini memang berkaitan dengan menghormati Khatib Jumat, tetapi secara keseluruhan juga harus diterapkan kepada siapa pun yang mendapat amanah menjadi pemimpin. Tidak ada pemimpin yang sempurna, dan siapa pun orangnya, selemah apa pun ia kelihatannya, selama ia adalah seorang pemimpin, maka Islam mewajibkan umatnya untuk menghormatinya.
Lantas, bagaimana kalau seorang pemimpin mengambil keputusan yang keliru, atau bahkan melakukan penindasan?
Hazrat Mirza Tahir Ahmad Khalifatul Masih IV r.h. pernah menyampaikan solusinya dalam sebuah program tanya jawab. Beliau r.h. mengutip sabda Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Al-Masih Al-Mau’ud a.s. yang menjelaskan maksud ayat berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang memegang kekuasaan di antaramu. Dan jika kamu berselisih mengenai sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Itu paling baik dan paling bagus akibatnya.” (QS. An-Nisa’ 4: 60)
Beliau a.s. Bersabda, “Jika penguasa menindas, janganlah mengkritiknya, tetapi perbaiki diri Anda sendiri. Allah akan menggantikannya atau menjadikannya baik.”
Lebih lanjut, Hazrat Khalifatul Masih IV r.h. Menjelaskan, “Ini adalah sebuah kebiasaan yang sayangnya kini terlihat di dalam Jemaat di berbagai tempat yang berbeda. Jika penguasa atau pemimpin bersikap adil, janganlah mengkritiknya. Ini tidak berarti bahwa Anda tidak boleh mengkritik orang yang tidak baik.
“Sebaliknya, hal ini berarti bahwa setiap orang dapat memiliki pendapat yang berbeda mengenai pemimpin atau penguasa dan dapat menganggapnya zalim dalam urusan pribadinya. Jadi, jika hal ini terjadi, Anda sama sekali tidak berhak dan ayat Al-Qur’an ini menghalangi Anda untuk mengkritiknya di kalangan masyarakat umum.
“Jika Anda memiliki perbedaan pendapat terhadap penguasa Anda atau pemimpin Anda, maka jika perbedaan pendapat itu tetap ada di dalam hati Anda, pada hakikatnya itu tidaklah buruk. Namun, Anda tidak mempunyai hak menyebarkan opini Anda di masyarakat umum dan menyebarkan ketidakpuasan terhadap penguasa tersebut.
“Di samping itu, Hazrat Masih Mau’ud a.s. Menyampaikan, “Sebaliknya, perbaikilah diri Anda sendiri.” Dengan kata lain, sudah jelas bahwa ada kemungkinan bahwa Anda perlu mengadakan perbaikan terhadap diri Anda sendiri. Jika Anda memperbaiki diri, Anda akan memahami masalah ini dengan sangat jelas.”
Lebih lanjut, Hazrat Khalifatul Masih IV r.h. Menjelaskan bahwa reformasi diri bisa terjadi ketika kita bisa menerima keputusan pemimpin dengan hati yang tulus, sekalipun keputusan tersebut keliru. “Ketika Anda menerima keputusan tersebut dengan hati yang tulus, maka reformasi Anda mungkin terjadi. Namun, jika Anda terus-terusan mempublikasikan hal ini, maka tidak ada kemungkinan Anda direformasi atau diislah.
“Jika Anda benar, ini juga sebuah kemungkinan, maka sudah menjadi ketetapan Allah bahwa Tuhan akan menggantikan si penguasa itu atau menjadikannya orang yang bertakwa. Betapa indahnya penyelesaian masalah ini, yakni Allah telah mengambil alih masalah ini ke tangannya sendiri.” [*]
Dari penjelasan Hazrat Khalifatul Masih IV r.h. Berdasarkan sabda Hazrat Masih Mau’ud a.s., maka alih-alih sibuk mengkritisi dan menyebarkan kritik atas keputusan pemimpin ke masyarakat, umat Islam diajarkan Alah Ta’ala untuk menyerahkan urusan tersebut ke ‘tangan’ Allah Ta’ala sendiri.
Pemimpin yang buruk adalah cerminan masyarakat yang buruk. Maka Hazrat Masih Mau’ud a.s. menekankan pentingnya untuk memperbaiki diri karena bila masyarakatnya memperbaiki diri, mereka akan bisa lebih baik dalam memilih pemimpin. Dan bila pemimpin bisa melihat kualitas akhlak masyarakatnya, maka bisa jadi ia pun akan memperbaiki dirinya sendiri.
Pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar. Ia bertanggung jawab langsung kepada Allah Ta’ala atas amanah yang diembannya. Itulah mengapa Allah Ta’ala mengajarkan umat-Nya untuk menyerahkan urusan pemimpin di ‘tangan-Nya’ langsung. Bila sebagai pemimpin ia tak mau memperbaiki dirinya, maka Allah Ta’ala sendiri yang akan menggantinya.
Sebagai makhluk sosial, wajar bila terdapat perbedaan dalam pemahaman. Dan adalah wajar bila kita sebagai manusia masih sering jatuh karena tersandung dan berjalan tertatih-tatih dalam menjalankan syariat-Nya. Namun, bila Dia Yang Mahatinggi percaya bahwa kita sebagai ciptaan-Nya mampu meraih ketinggian adab dalam menjalani kehidupan, maka kita pun tak boleh putus asa dan menyerah.
Insya Allah, dengan karunia-Nya, kita akan bisa meraih kemajuan-kemajuan, baik kemajuan jasmani maupun rohani. Termasuk, dalam perkara menghormati dan memperbaiki pemimpin dalam setiap jenjang kehidupan kita dengan adab yang lebih baik dan insyaallah lebih efektif. Aamiin.
Referensi:
[*] https://youtu.be/Ubl9IPi25hA?si=D40JfRru5PXIVE7r diakses pada Sabtu, 16 Mei 2026, pukul 20.12 WIB.
Views: 12
