Pengabulan Doa yang Amat Nyata

Dering telepon berbunyi. Tak lama setelah ia kembali dari tempat peraduannya. Setelah ia mengadu sejadi-jadinya. Dan Tuhan selalu menyayanginya.

Aisyah namanya. Ia nyata dengan nama yang berbeda. Dan ia adalah seorang muslimah Ahmadiyah yang biasa disebut Lajnah Imaillah (LI).

Aisyah adalah seorang ibu rumah tangga dengan 3 orang anak. Karena suatu hal, ia tinggal terpisah dengan suaminya.

Di sisi lain, ia juga seorang wanita karir, sebutlah saja demikian. Hari-hari, ia lewati dalam kesibukan yang sangat menyita waktu, pikiran dan energinya.

Semaksimal mungkin, ia membagi dirinya untuk dapat menunaikan segala tugas dan kewajiban di pundaknya. Anak-anak dan rumah, semua ada dalam tanggung jawabnya. Tak ada asisten rumah tangga yang dilibatkan.

Sebab, ia tidak ingin perannya sebagai ibu tergantikan oleh siapapun. Dia tidak ingin kendali atas putra-putri dan keluarganya diambil alih orang lain.

Sementara itu, di tempat kerja, kinerja terbaik selalu siap ia persembahkan. Dedikasi dan etos kerja tinggi selalu jadi tekadnya.

Dalam benaknya, sudah tertanam tekad bahwa dimana pun dan apapun tugas yang di embannya, harus dilakukan dengan optimal.

Dan kini, Aisyah bermetamorfosa menjadi wanita dengan setumpuk aktivitas yang benar-benar menyita segalanya.

Hingga datang suatu hari yang amat kelabu dalam perjalanan karirnya.

Seberkas penilaian pahit merangsek masuk dalam gendang telinganya. Merobek idealisme. Menampar dengan keras semua konsepsi tentang kehidupan seorang karyawan yang penuh dedikasi.

Kata-kata pahit sang pimpinan telah membuat langkahnya berhenti sejenak. Omong kosong soal dedikasi terbaiknya, katanya. Apalagi soal kerjakeras dan pengabdiannya yang dianggap nihil.

Dengan gontai, dibawalah langkah kakinya menuju sebuah mesjid. Disana Aisyah benar-benar ambruk. Merebahkan diri di hadapan Rabb-nya. Mengadukan kepahitan yang baru saja ditelannya.

“Ya Allah, hamba lelah. Hamba putus asa. Manusia tak menghargai pengabdian yang hamba lakukan. Mereka dengan mudah bisa menghinakan sesama dengan pedasnya kata-kata. Ya Allah, hamba mengadukan sakit ini hanya kepada-Mu. Tolonglah hamba Ya Rabb, hamba rindu untuk kembali lagi seperti dulu, mencurahkan waktu dan pikiran hamba untuk mengkhidmati Jemaat-Mu. Berikanlah hamba jalan untuk dapat berkhidmat lagi”.

Aisyah merintih sambil bernostalgia tentang dirinya dulu. Deraian air mata menemaninya memasuki masa-masa ketika ia aktif dalam kepengurusan.

Hingga ingatannya berlabuh saat pertama kali diberikan amanat sebagai seorang pengurus. Saat itu Aisyah ditunjuk sebagai Ketua Nasirat di cabangnya. Hingga jalan pengkhidmatannya berlanjut menjadi pengurus LI, pengajar madrasah, tim carrier planning, serta berbagai macam kepanitiaan telah ia lakoni dengan penuh semangat.

Tapi itu dulu. Kini ia hanyalah seorang karyawan yang tengah sibuk dan terombang-ambing dalam keterasingannya dengan dunia.

Dan Aisyah mendadak kehilangan momen-momen tersebut, karena segudang kesibukannya, yang justru malah membuatnya gundah gulana.

Ada perasaan lega menyelimuti hatinya, setelah selesai shalat, berdoa dan berdzikir. Segera diseka airmatanya dan kembali ke tempat kerja.

Belum beberapa menit dia masuk ke ruang kerja. Telpon genggam di dalam tasnya berdering.

Assalamualaikum , Ibu apa kabar?”

Dan obrolan hangat pun terjalin. Hingga, Ibu yang berbicara dalam telepon tadi menyampaikan sebuah permintaan.

“Ibu Aisyah, bersediakah Ibu untuk berkhidmat bersama kami di Kepengurusan Daerah?”

Deg. Kalimat itu benar-benar membuatnya terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Tak mampu ia berkata. Hanya derasnya cucuran airmata yang menjadi saksi bahwa benar Allah sayang dirinya.

Allahu Akbar, kalbunya sorang berteriak. Engkau benar-benar hadir detik ini di hadapan hambaMu ini ya Rabb. Belum berselang beberapa menit lalu, hamba mengadu pada-Mu. Begitu cepat Engkau menjawab doa hamba.

Dengan penuh syukur, diterimalah amanah baru itu. Ada bahagia yang tiba-tiba memenuhi relung hatinya. Airmata duka karena ulah manusia serta merta tergantikan dengan obat mujarab dari Yang Maha Kuasa.

Dilaluinya tugas demi tugas dengan sukacita. Sementara itu, iapun tak melunturkan semangat pengabdian di tempat kerjanya.

Kini, Aisyah justru merasa menemukan lagi jiwanya, jatidirinya yang sempat hilang. Rangkaian tugas yang begitu banyak dalam Kepengurusan Daerah, tak membuatnya lelah.

Selalu didahulukannya tugas-tugas itu sebelum pekerjaan lainnya. Apa yang dapat ia persembahkan, ia persembahkan dengan maksimal.

Dan Allah Maha Baik,

Di tempatnya bekerja pun, satu demi satu kepercayaan berdatangan. Jabatan baru disematkan di bahunya. Ejek cemooh berganti dengan amanah baru yang diembannya.

Dan Allah benar-benar Maha Baik,

Airmatanya dibalas dengan hadiah istimewa dalam urusan agama dan dunia. Apalagi yang harus diucapkannya. Selain syukur tiada terkira.

Jika masih ada yang ragu tentang pengabulan doa, jika masih ada yang bimbang dalam mengkhidmati agama, maka sungguh ia tengah berada dalam kerugiaan yang nyata. Padahal, mengkhidmati agama dan pengabulan doa punya keterkaitan yang tak bisa dilepaskan.

.

.

.

editor: Muhammad Nurdin

Hits: 12

Ai Yuliansah

2 thoughts on “Pengabulan Doa yang Amat Nyata

  1. MasyaAllah.

    Alhamdulillah saya begitu mengenal baik sosok Beliau, Beliau tidak pernah lepas sholat tahajud.

    Dalam kisah ini, Beliau mengajarkan saya, agar dalam situasi apapun jangan pernah meninggalkan DIA YANG TUNGGAL.

    Jazakumullah, sangat menginspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *