SAAT KEBENCIAN BERGANTI CINTA

Sejarah perjalanan Jemaat Ahmadiyah tak pernah bisa lepas dari yang namanya penentangan dan sikap ketidaksukaan. Ini sudah menjadi “Sunnatullah” yang akan selalu berulang dimana pun Jemaat berada.

Itupun yang saya alami ketika menemani suami bertugas di sebuah kota. Ada satu keluarga yang rumahnya tak jauh dari Masjid Jemaat, yang terkenal jutek dan tidak senang dengan keberadaan Jemaat di perumahan itu.

Mendapat informasi ini, saya dan suami telah berkomitmen bahwa apapun yang akan dilakukan oleh tetangga yang satu ini, jangan pernah diambil hati. Kalau perlu jangan ditanggapi.

Awal kami bertugas, tetangga ini langsung menunjukkan ketidaksukaannya. Dengan cara melarang anaknya untuk main ke rumah missi. Padahal, rumahnya dekat sekali. Cuma terhalang masjid Jemaat.

Karena sudah berkomitmen. Reaksi seperti ini saya anggap sebagai angin lalu saja. Tidak perlu dihiraukan.

Rupanya, rasa tidak suka itu ditunjukkan dalam keseharian yang lain. Biasanya, ibu-ibu kompleks kalau tengah belanja ke tukang sayur pasti ngobrol dulu. Meski sekedar basa-basi.

Tapi tidak untuk tetangga yang satu ini. Ia benar-benar menunjukkan sikap menolak lahir serta batin. Padahal, jika tidak setuju dalam hal akidah, tinggal tolak saja secara batin. Tidak perlu manzahirkannya dalam sikap dan keseharian.

Tapi, sebagai pihak yang baru tinggal di kompleks tersebut, saya selalu membuka jalur komunikasi yang sesederhana mungkin kepadanya. Tapi rupanya, ia tidak juga merespon. Saya jadi berfikiran untuk mendiamkan saja.

Saya terus bersabar menghadapi sikap tidak menyenangkan tetangga ini. Sambil terus mendoakannya supaya Allah Ta’ala membolak-balikkan hatinya untuk bisa menerima apapun latar belakang tetangganya.

Dan Allah Ta’ala membukakan jalan bagi kami untuk menjalin hubungan hangat dalam bertetangga.

Suatu hari. Tetangga ini melahirkan anaknya yang ketiga. Dan rupanya, anaknya mengalami kuning fisiologis. Tentu kondisi ini kalau tak ditangani secara cepat akan berbahaya bagi sang bayi.

Disisi yang lain. Rupanya, sang ibu belum juga bisa produksi asinya. Sudah dipompa belum juga bisa keluar asinya.

Mendengar kabar tersebut, sontak saya langsung bergegas menjenguk tetangga yang baru melahirkan itu. Dengan simpati yang memang biasa dizahirkan oleh setiap Ahmadi saya berusaha untuk bertanya tentang keadaannya.

Tentu, betapa kagetnya ia ketika melihat diri saya. Saya langsung menawarkan asi saya untuk bayinya. Karena saat itu, saya juga sedang menyusui anak umur empat bulan dimana produksi asinya sangat melimpah. Dan kebetulan juga anak ibu itu laki-laki seperti anak saya. Jadi saya pikir tak masalah untuk membantu.

Rawut wajahnya mulai memerah. Ia tak sanggup menatap mata saya lama-lama, melihat itikad baik lagi tulus yang saya zahirkan untuknya. Selama seminggu saya pun menyusui bayinya sampai asi ibunya keluar.

Dan dari situ semua berubah. Tetangga yang tadinya sinis kini mulai menunjukkan sikap ramah. Air mukanya kini mulai dipenuhi kasih sayang. Bahkan sampai sekarang, ia selalu menjalin komunikasi untuk sekedar menanyakan kabar saya sekeluarga.

Dari pengalaman ini saya mendapat pelajaran bahwa pada akhirnya kebencian akan selalu kalah dengan kasih sayang dan ketulusan hati yang terus menerus dicurahkan.

Ada lagi satu nasihat sangat manjur untuk menghadapi sikap tidak menyenangkan yang diperlihatkan oleh tetangga, bersumber dari sebuah hadits Nabi saw.

Dari Abu Dzarr ra, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Wahai Abu Dzarr, jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR. Muslim)

Nasihat ini sangat ampuh untuk meluluhkan hati para pembenci. Tentu, asalkan didasari oleh keita’atan dan keikhlasan hanya semata-mata mencari ridha Allah Ta’ala.

Seibarat, kerasnya batu bisa hancur, jika terus ditetesi air, begitu juga kerasnya hati manusia akan luluh juga, jika terus dicurahi cinta dan kasih dengan penuh sabar dan ikhlas.

.

.

.

editor: Muhammad Nurdin

Hits: 19

Teti Kurniaty

5 thoughts on “SAAT KEBENCIAN BERGANTI CINTA

  1. مَشَآءَ اللّٰهُ
    Merinding baca kisahnya, sama seperti pengalaman tugas pertama saya… Hingga seseorang tadinya menunjukkan rasa tidak suka dapat menerima kebenaran Jemaat dan menjadi keluarga Ahmadi yang mukhlis, dengan izin Allah… Semoga demikian pula nantinya akan ada Hidayah yang indah buat sang tetangga…

    آمين يارب العالمين

    1. MasyaAllah Bu… Pasti akan sangat menarik dan bermanfaat jika ibu juga mengisahkannya. InsyaAllah kami siap menjadi jembatannya. Jazakumullah..

  2. Subhanallah.
    Ya, ketulusan hati akan selalu memancarkan cahayanya sendiri. Ibarat cermin memantulkan gambaran objek sesungguhnya. Maka, ketulusan adalah kunci segala pengkhidmatan. Jika di dalam hati tak ada ketulusan, tentu reaksi yang ditimbulkan akan berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories