Terusir Dari Kampung Halaman dan Hijrah Demi Pertahankan Iman

Hampir 18 tahun yang lalu, peristiwa penyerangan pertama Jemaat Ahmadiyah di Lombok Tidur. Semua warga Jemaat terusir dari rumah-rumahnya. Rumah habis dilalap si jago. Yang tersisa tinggal kenangan pahitnya, hingga kini.

Aku adalah salah seorang saksi kejadian penyerangan dan pengusiran Jemaat di Lombok pada tahun 2002 silam. Tepatnya di bulan september.

Bagi penduduk dunia global bulan september adalah mengenang peristiwa serangan teroris Al-Qaida terhadap menara kembar WTC di Washington DC, AS. Namun bagi warga Jemaat Lombok, bulan September adalah awal mula hijrah meninggalkan kampung halaman.

Sebelum peristiwa ini terjadi para Ahmadi sedang mengalami peningkatan dan kemajuan di bidang ekonomi. Salah satunya orang tuaku. Usahanya sebagai agen kebutuhan rumah tangga sangat maju pesat. Pelanggan berdatangan dari berbagai penjuru desa.

Sampai-sampai mereka yang dengki karena kami Jemaat mengatakan, apa yang didapat dari usaha orang tuaku karena setiap bulan mendapat sokongan dana dari London.

Rasa iri hati melihat kemajuan Jemaat semakin menjadi ketika Jemaat Pancor bisa membangun masjid yang sangat besar hanya dari hasil pengorbanan para anggota.

Rasanya ingin tertawa mendengar ucapan mereka dan tak jarang juga aku menimpali tuduhan mereka dengan mengatakan, “Kalo kami dapat sumbangan tiap bulan dari London buat apa kami cape-cape usaha siang malam lebih baik kami tidur-tiduran di rumah menikmati sumbangan, untuk anda ketahui justru kami usaha ini untuk memenuhi tanggung jawab kami berkorban untuk agama, kami setiap bulan membayar candah yang akan digunakan untuk penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia termasuk membangun masjid makanya kami itu tidak pernah minta-minta di jalan atau mengajukan proposal ke pemerintah atau kemana saja.”

Kefanatikan kepada Jemaat sangat menonjol di Lombok. Kami pun disebut dengan panggilan “dingkong”. Sampai sekarang pun tak pernah kutahu jawabannya mengapa panggilan itu disematkan kepada kami. Mungkin juga sama dengan sebutan “lore” di daerah sumatera.

Karena kami seorang Ahmadi sejak kecil seringkali kami mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari teman-teman sepermainan.

Seringkali kami diludahi bahkan ditaburi pasir sembari mereka memanggil kami dengan sebutan ‘kafir’. Namun berkat bimbingan orang tua, mubaligh dan sesepuh Jemaat kami selalu kuat untuk tak pernah metangis karena perlakuan mereka. Bahkan membalas perlakuan mereka pun tak pernah kami lakukan cukup kami berkata biarlah ada Allah yang akan membalas semua perlakuan mereka.

Kebencian kepada Jemaat di Lombok sudah mengakar secara turun temurun. Hingga puncaknya terjadi penyerangan dan pengusiran orang-orang Ahmadi pada bulan September 2002.

Saat itu aku baru melahirkan anak kedua, bayiku pun masih berumur 4 bulan. Beberapa bulan sebelumnya kami sudah mendengar desas-desus dari pegawai yang bekerja di toko bangunan milik salah seorang anggota Jemaat.

Mereka memberitahukan akan ada “pengganyangan” orang Ahmadiyah. Namun kami tak yakin bila hal itu akan terjadi, karena kami merasa sudah 32 tahun lebih tinggal berbaur bersama masa sih tega mengusir yang masih saudara sendiri. Yah itu pembelaan kami untuk meredakan desas-desus tersebut.

Namun pikiran kami salah, yang kami anggap saudara ternyata tidak menganggap kami saudara. Meski itu saudara yang masih ada ikatan darah sekalipun.

Sejak minggu pertama di bulan September selama seminggu lebih penyerangan bertubi-tubi dilakukan para penentang Jemaat. Mereka menyusuri dan mencari dimana rumah orang-orang Ahmadi tinggal, kami dipaksa harus meninggal rumah kami.

Bermula dari pusat Jemaat di cabang Pancor, para Ahmadi yang rumahnya berdekatan dengan masjid sudah meninggalkan rumah. Masjid Jemaat yang menjadi sasaran utama penyerangan dirusak dan dibakar.

Saya sendiri tinggal sekitar 2 km dari masjid Jemaat. Awalnya kami merasa aman tidak akan ikut diserang. Namun tepatnya tanggal 9 september dini hari suara pekikan tembakan bergema, suara takbir para penyerang bersahut-sahutan sembari mereka meneriakkan kata bakar… ganyang…

Saat itu alat untuk berkomunikasi dengan sesama saudara rohani tak ada sama sekali. Kami tidak tahu kemana saudara Ahmadi yang di Pancor mengungsi.

Saudara-saudara kami yang ghair pun ikut ketakutan karena keberadaan kami. Kebetulan rumah keluargaku ada dalam perkampungan yang padat, mereka meminta kami meninggalkan rumah untuk keamanan kampung.

Akhirnya kami disarankan meninggalkan rumah mengungsi sementara ke rumah keluarga yang jaraknya lumayan jauh sekitar 1 km dari rumah.

Aku dan kakak-kakakku mengemasi keperluan seadanya dan yang teringat hanya keperluan bayi dan pakaian ala kadarnya.

Dalam bundelan selimut aku kemasi barang-barang sembari menggendong bayiku yang masih merah. Sebelumnya telinga bayiku aku tutupi dengan kapas dan kain bedongan. Agak aku eratkan dengan harapan bayiku tidak terkejut mendengar suara tembakan yang terus menggelegar. Karena aku lihat setiap kali tembakan berbunyi matanya terbelalak dan terkejut.

Aku dan kakak-kakak pun menyusuri lorong-lorong kampung dalam gelapnya malam dan di tengah perjalanan kami berpapasan dengan orang-orang yang hendak merusak dan membakar rumah anggota Ahmadi.

Mereka membawa kayu sebesar paha dan jerigen yang berisikan minyak tanah sembari bersahut-sahutan meneriakkan kalimat “bakar… habiskan usir orang-orang kafir perusak agama…

Aku hanya beristighfar saat itu. Kakiku mulai gemetar melihat orang-orang yang telah gelap mata. Bagi mereka, kami tak lebih baik dari binatang.

Rasa khawatir mulai menyeruak. Bagaimana kalau mereka mengenali kami dalam keadaan kalap seperti itu?

Disinilah kami melihat pertolongan Allah Ta’ala. Mereka seperti tidak mengenali kami yang lewat di depan mereka. Saat itu aku seperti melihat ada tangan yang sangat besar melindungi kami.

Mungkin hanya penglihatanku semata, entahlah. Tapi aku yakin, tangan itulah yang membuat mata orang-orang yang tengah dalam pengaruh kebencian itu tak mampu melihat dan mengenali kami.

Lebih kurang satu jam kami menyusuri lorong dan pematang sawah menuju rumah saudara untuk berlindung menunggu pagi. Tibalah kami di tempat itu melepaskan rasa capek dan gemetar yang kami rasakan.

Namun belum juga reda kami melepas lelah si pemilik rumah meminta kami meninggalkan rumahnya karena dia pun ketakutan karena mendengar semakin kencangnya suara tembakan dan teriakan para penyerang.

Ketakutan pemilik rumah semakin menjadi karena beberapa rumah anggota Ahmadi sudah dilalap si jago merah dan dia pun khawatir jika orang-orang tahu kami bersembunyi di rumahnya maka rumahnya yang akan menjadi korban.

Akhirnya kami pun kembali berkemas meninggalkan rumah. Dalam perjalanan kami bingung hendak kemana, kami menghentikan langkah di tengah pematang sawah sembari melepas lelah.

Aku pun menjerit menangis dalam hati memohon pertolongan Allah Ta’ala semoga malam ini saja kami ada tempat untuk berlindung kasihan bayiku dan anak kakak-kakakku yang masih balita.

Kepanikanku mulai bertambah. Aku baru sadar anak pertama tidak ada bersamaku. Entahlah dengan siapa dia. Tapi kumencoba untuk menenangkan hati semoga dia bersama kakek neneknya.

Waktu hampir menjelang subuh. Akhirnya ada keluarga yang berdekatan rumah dengan kami mengizinkan tidur di rumahnya sambil kami cari tahu kemana orang-orang Ahmadi yang lain diungsikan.

Dan ketika pagi harinya kami diberitahukan kalau semua anggota sudah dikumpulkan di Polres Lombok Timur.

Di pagi harinya baru aku tahu kalau ibu bapak, adik-adik termasuk anakku dilindungi di rumah tetangga yang memiliki gubug reot. Semoga Allah Ta’ala membalas segala kebaikan mereka.

Akhirnya kami pun pergi ke Polres dengan berjalan kaki. Diperjalanan kami melihat rumah anggota yang sudah habis terbakar hanya tinggal puing yang tersisa.

Orang-orang menontoni kami sembari berteriak, “tobat… makanya jangan jadi kafir”. Segala ucapan sumpah serapah, mereka lontarkan namun tidak akan bisa menggoyahkan iman kami.

Sesampai di Polres kami bertemu saudara-saudara rohani. Kami saling berpelukan, menangis dan saling menguatkan. Ini hanya cobaan untuk menguatkan keimanan dan insyaAllah kita akan semakin kuat.

Justru yang membuat kami gelisah masih ada anggota yang belum berkumpul apakah mereka tahu dimana para anggota berkumpul.

Setiap malam terdengar suara dari speaker di masjid jika tidak mau rumahnya dirusak dan dibakar silahkan bertobat keluar dari Ahmadiyah membuat surat pernyataan.

Dan bila ada yang mau menyatakan keluar maka diumumkan juga di masjid-masjid. Saat itu ada satu dua anggota yang memilih keluar namun pada akhirnya kembali lagi bai’at setelah keadaan tenang.

Pada akhirnya satu persatu anggota Jemaat berdatangan dijemput oleh aparat sampai anggota yang tinggal di pelosok pun dibawa berkumpul di aula Polres Lombok Timur.

Rumah-rumah anggota Jemaat yang letaknya di pinggir jalan telah habis dijarah dan dibakar oleh masa penentang Jemaat.

Begitu pula toko milik anggota termasuk milik orang tuaku pun tak luput dari penjarahan. Sisa-sisa barang yang dijarah dibawa ke Polres.

Hari demi hari kami lalui di pengungsian. Tidur hanya beralaskan kain dan selimut yang sedapatnya kami bawa.

Banyak dari kami yang memiliki bayi yang masih merah. Kami harus ikhlas menidurkannya di atas dinginnya ubin kantor polisi hanya dengan beralaskan kardus dan selimut tipis.

Bayi-bayi yang tak pernah tahu apa-apa soal akidah orang tuanya harus diseret paksa masuk dalam lingkaran perseturuan besar ini. Mereka melewati malam hanya bermodalkan dekapan kasih ibunya.

Selalu kubacakan ayat-ayat suci Al-Quran, tasbih, tahmid dan shalawat untuk menemaninya tidur. Bersyukur ia tidak terlalu rewel, meski sesekali menangis kencang karena kedinginan.

Dalam hatiku bergumam, “Bukan keinginan ibu nak, menempatkanmu dalam situasi yang serba sulit ini.” Hanya sebaris doa yang bisa kuberikan agar ia selalu sehat di tempat yang tak nyaman ini.

Selama dalam pengungsian di aula Polres, yang kami lakukan hanya saling menguatkan. Satu sama lain.

Tidak ada bantuan yang datang dari pihak manapun kepada kami saat itu, hanya Jemaat di Pusatlah yang menjadi penopang kami. Para pengurus membelikan nasi bungkus untuk mengganjal perut karena tak ada yang bisa dimakan.

Beruntung masih ada sisa-sisa dagangan orang tuaku yang masih bisa dimanfaatkan dan dibagikan kepada anggota seperti mie instan, sabun cuci dan lain sebagainya.

Jangankan bantuan materi, bantuan moril dalam bentuk “trauma healing” bagi anak-anak pun tak ada. Mungkin karena kami pengikut Ahmadiyah, sehingga tak ada yang menghiraukan dengan kondisi mental kami dan anak-anak.

Hampir satu minggu lamanya baju di badan tak pernah diganti karena tak sempat terbawa ketika meninggalkan rumah. Kami hanya bisa berdoa dan menggantungkan harapan kepada Allah Ta’ala agar kami selalu diberikan kesehatan oleh-Nya.

Kurang lebih dua minggu lamanya kami ditampung di aula Polres Lombok Timur. Dengan cara paksa dan intimidasi akhirnya kamipun meninggalkan kampung halaman dimana kami lahir dan dibesarkan.

Beberapa mobil elf sudah disiapkan untuk mengangkut kami dan kami pun tidak mengetahui kemana kami akan dibawa.

Tatapan mata orang-orang yang anti terhadap keberadaan kami memenuhi jendela aula Polres Lotim. Setiap hari kami dijadikan tontonan sembari mencemooh keberadaan kami.

Seolah-olah kami adalah terdakwa yang telah melakukan kejahatan yang besar. Namun, seberapapun mereka memperlakukan kami dengan buruknya, tak akan melemahkan iman kami sedikitpun.

Terkadang kami jadikan itu sebagai lahan tabligh karena ada saja orang yang berhati bersih. Mereka melihat kami meskipun dalam segala keterbatasan tempat dan keadaan, shalat berjamaah lima waktu dan tahajud berjamaah tetap berjalan bahkan lebih deras lah doa-doa yang kami panjatkan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa.

Tidak ada sujud-sujud yang luput dari isak-tangis warga Jemaat. Karena pada saat itu. Teman yang paling setia adalah Dia. Dia yang tidak pernah meninggalkan kami ketika benar-benar tidak ada lagi nempat bernaung.

Peristiwa ini merupakan sebuah karunia Ilahi bagaimana kami bisa mencicipi rasanya “hijrah” untuk mempertahankan keimanan, sesuai dengan apa yang pernah Rasul saw pernah amalkan.

Kisahku ini hanya sebagian kecil kenangan bersejarah mempertahankan keimanan meski harus kehilangan harta benda. Aku yakin, masih banyak kisah dari saudara-saudara rohani di Lombok dan aku berharap mereka pun mau berbagi kisah dalam sebuah tulisan yang kelak akan menjadi saksi sejarah tertulis bagi generasi Jemaat di masa mendatang yang akan mereka baca dan insyaAllah akan menjadi penguat keimanan mereka.

.

.

.

editor: Muhammad Nurdin

Hits: 43

Rauhun Thayibah

4 thoughts on “Terusir Dari Kampung Halaman dan Hijrah Demi Pertahankan Iman

  1. Ya Allah…suatu karunia dari Allah bisa merasakan nikmatnya berkorban untuk mempertahankan keimanan. Sya gak kenal dg penulis namun,rasanya ingin memeluknya.

    1. jazakumullah ibu apresiasinya..perkenalkan sy Rauhun Thayibah..peluk cium ibu sy terima😭❤

  2. Jadi ingat sahabat yang datang kerumah waktu itu….. hm…. moga Ramat Allah menyertai kalian selalu saudaraku.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories