ALLAH ADA DENGAN SEGALA KEAJAIBANNYA (bag 2)

Gadis masih menyimpan setitik semangat di tengah gambaran masa depan yang mulai pekat. Tak ada pilihan, karena hidup harus terus berjalan.

“Nak,” Ibunya memanggil lirih, “besok kita pergi ke rumah uwa ya. Ibu nggak pengen kamu hanya diam di rumah. Lebih baik mulai besok kamu mulai belajar menjahit di tempat kursusnya uwa.”

Gadis tidak menjawab. Hatinya masih meronta seolah semakin tercabik dengan tawaran Ibunya barusan. Inginnya melanjutkan sekolah, bukan malah kursus menjahit yang sebagian besar diikuti oleh ibu-ibu atau remaja putri yang memang tak pernah ingin bersekolah terlalu tinggi. Namun lagi-lagi, Gadis tak punya pilihan.

Langkahnya gontai menuju rumah uwa. Gadis yakin, Ibu mungkin merasakan kepedihan hatinya. Namun kekecewaannya sungguh tak berujung. Gadis hanya sekadar memaksakan senyumnya di hadapan Ibu, karena tak ingin rasa kecewanya berpindah menjadi tangisan Ibu dan Bapak.

Gadis ikuti saja semua kegiatan kursus menjahit di rumah kakak ibunya itu dengan ikhlas. Selain belajar menjahit, Gadis juga turut membantu mempersiapkan dan membersihkan ruangan kursus, sebelum dan setelahnya. Tak hanya itu, pekerjaan rumah yang lain pun turut dikerjakan dengan senang. Selain untuk mengisi waktu menganggurnya, Gadis melakukan itu semua karena upah yang uwa berikan setiap harinya.

Tak terasa, dua tahun Gadis lalu dengan ikhlas bekerja sambal belajar di tempat kursus milik uwa. Selain ilmu, tentu ada sedikit uang yang bisa digunakan untuk membantu Bapak dan Ibu memenuhi kebutuhan rumah.

Keinginan Gadis kini beralih, ingin bisa membantu Bapak dan Ibunya lebih banyak lagi. Gadis pun memutuskan untuk memanfaatkan ilmu yang dia miliki, dengan bekerja di Bandung. Dengan menumpang tinggal di rumah kakaknya, ia berkelana di rantau mencari pekerjaan. Bukan hal yang mudah juga, karena mencari pekerjaan tak semudah yang diinginkan.

Gadis baru mendapatkan pekerjaan setelah lebih dari sebulan merantau di Bandung. Sebuah percetakan kecil yang dimiliki oleh seorang WNI keturunan, mempekerjakan buruh-buruh denga upah rendah. Semua terpaksa Gadis terima dengan harapan, dia bisa mendapatkan uang untuk kebutuhan hidupnya, dan juga untuk dirikim ke Ibunya di kampung.

Ingar bingar kehidupan kota selalu menghantui Gadis. Lingkungan kerja yang keras, para pekerja yang merokok, bahkan minum minuman keras. Beberapa kali Gadis juga menerima pelampiasan amarah pemilik usaha karena Gadis harus meniggalkan pekerjaan karena hendak melaksanakan salat fardhu. Belum lagi ketika Ramadan tiba, pekerjaan tetap bertumpuk hingga mengharuskan Gadis bekerja lembur dan meninggalkan salat tarawih. Saat iftar pun sering terlewat, bahkan tak jarang hanya sekadar meneguk segelas air putih saja.

Sebuah pilihan yang berat. Gadis merasa inilah tanggung jawab sekaligus ujian yang harus ia terima. Tidak ada gunanya berkeluh-kesah. Sepanjang hari, hanya nasihat sang Bapak untuk tetap berpegang pada tali agama sajalah yang membuat Gadis tidak terkoyak dengan kehidupan kota yang kelam.

Tiga tahun, bukan waktu yang sebentar untuk bertahan dari godaan kemaksiatan.

bagian 3

Hits: 48

Cucu Komariah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories